Perjalanan seorang Andik

No resistant, No judging, No attachment

Posted by: oktamalandi on: April 6, 2009

Tiga kata itu yang aku dapatkan dari guru baruku, tiga kata yang dari pengalaman hidupnya akan membawa seseorang menuju ke kebahagiaan sejatinya. Disini aku akan merangkum berdasarkan apa yang aku pahami dari tiga kata yang guruku katakan itu.

No Resistant – The power of NOW :
Inti dari pernyataan ini adalah manusia hidup SAAT INI, jadi jangan menyesali apa yang sudah lewat dan jangan juga berharap dari apa yang belum terjadi. Apa yang bisa diubah hanyalah apa yang ada dihadapan kita saat ini. Seringkali ilusi masa lalu dan masa depan menahan seseorang untuk mengeluarkan apa yang terbaik dari dalam dirinya. Untuk hidup seperti itu memang membutuhkan keberanian dan dua hal berikutnya, yaitu :

No Judging :
Tidak menilai atau menganggap sesuatu itu dari apa yang tampak luarnya tanpa memahaminya terlebih dulu. Jika pernyataan pertama saja sudah memusingkanmu, maka bersiaplah untuk lebih pusing di pernyatan kedua ini. Karena apa yang sering manusia (baca : AKU) lakukan adalah selalu berasumsi dan mengambil kesimpulan berdasarkan paradigma kita sendiri. Jika manusia (lagi-lagi baca : AKU) cukup sabar dan terbuka untuk menerima perbedaan maka hidup akan damai dan tidak berat karena tidak terbebani dengan penilaian yang kadang salah kadang benar. Lalu apakah itu akan menumpulkan impresi pertama atau cinta pada pandangan pertama ? Menurutku sih tidak, karena manusia sudah sempurna dibekali dengan segala hal mendorongnya untuk bisa mengambil keputusan dalam sekejap mata. Yang tidak boleh dilakukan adalah mempercayai sepenuh apa yang tampak sekilas itu tanpa mengujinya atau mencari tahu lebih dalam. Jika ternyata dengan tidak menilai itu akhirnya kita menyesali keputusan yang telah dibuat, maka dibutuhkan dua kata sebelum dan sesudahnya, yaitu no resistant dan :

No Attachment :
Tidak memiliki keterikatan terhadap kefanaan mungkin adalah tingkatan tertinggi dari pemahaman spiritual dari setiap Agama atau ilmu self awareness. Dan memang biasanya seseorang menyesal, marah, cemburu atau memiliki emosi-emosi negatif itu karena dirinya masih belum sepenuhnya lepas dari apa yang menurut kita berharga. Saat bisa membuat diri sendiri lepas (atau setidaknya tidak terikat begitu kuat) dari hal itu maka alangkah mudah dan bahagianya hidup

Menurut guruku, tiga hal itu adalah long life education dan hanya kita sendiri yang bisa menilai sampai di tingkat mana 3 hal itu sudah kita jalani. Semakin tinggi tingkat pemahaman dan pelaksanaan 3 hal dalam hidup kita itu, maka semakin tenang, semakin berdaya dan menarik hidup yang kita jalani. Itu menurut guruku, dia mencontohkan pencapaian terbesar dalam hidup dia bukan teori pengambilan keputusan yg dia ciptakan, atau karirnya yang selama 30 tahun mengajar di salah satu institusi manajemen terbaik negeri ini, tetapi adalah bagaimana dia bisa menjalani hari-hari dalam hidupnya dengan mata yang berbinar-binar dan betapa menariknya hdiup yang telah dia jalani.

Manusia adalah buku yang terbuka

Posted by: oktamalandi on: March 27, 2009

‘ Manusia adalah ibarat buku yang terbuka, saat memandang didalamnya, maka akan ada pembelajaran, kejutan dan memory yang tertuliskan ‘

Itu kalimat sederhana dari sebuah buku yang mengajarkan tentang Appreciative Inquiry (AI). AI sendiri adalah pendekatan yang cukup baru tentang bagaimana melakukan perubahan sosial yang berbeda dengan rekonstruksi sosial lainnya. Jika selama ini pendekatan untuk mengatasi permasalahan di masyarakat adalah dengan mengatasi masalah yang timbul itu, maka di AI untuk mengatasi masalah bukanlah dengan membedah masalah itu dan berusaha memperbaiki masalah itu sendiri, tetapi lebih dengan belajar dari apa yang sudah berhasil dan bekerja dengan baik yang kemudian dari apa yang diperoleh dari hal-hal baik itu dimimpikan apa yang akan terjadi di masa depan dengan hal-hal baik tersebut. Dengan menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan membuat hal itu dapat diwujudkan, maka impian sebesar apapun lambat laun akan terwujud.

Dari pemahaman yang demikian pada akhirnya aku menarik suatu kesimpulan bahwa alangkah indahnya jika dalam suatu komunitas atau masyarakat setiap individunya bisa saling belajar dan kemudian menciptakan pemahaman dan inovasi baru yang merupakan akumulasi dari hal-hal baik yang berasal dari pengalaman dan impian dari setiap individu. Hal itu yang kemudian aku sadari bahwa itulah awal dari terbentuknya masyarakat terbuka versi Haegel. *

* Jika mungkin tulisan diatas terlalu berat maka kesimpulannya adalah teruslah berbagi terhadap apapun yang terjadi dalam keseharian teman-teman, tetapi berbagi hal-hal yang baik, menyenangkan dan saling menginspirasi, karena dari cerita-cerita itu kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian.

Apa yang menggerakkanmu ?

Posted by: oktamalandi on: March 25, 2009

Aku tanyakan ini kepada semua yang membaca ini? Menurut ahli psikologi, manusia hanya digerakkan oleh dua hal utama yaitu sakit dan / atau senang. Jika bahasa Inggrisnya mah pain and pleasure. Seseorang akan cenderung menjauhi kesakitan dan mengejar kesenangan. Seringkali kita tidak tahu apa yang menggerakkan kita sehari-hari, seolah-olah apa yg kita rasakan berada di luar kontrol kita. Minimal dengan tahu kekuatan utama apa yang sedang menggerakkan kita dengan pilihan tindakan-tindakan kita tersebut maka kita tahu apa yang harus kita lakukan. Ada juga preferensi preferensi terhadap salah satu rasa itu, ada yang jauh lebih tergerak karena menghindari sakit, ada juga yang sangat bersemangat saat dia mengejar apa yang membuatnya senang. Idealnya adalah bagaimana membuat hubungan antara dua perasaan tersebut terhadap apa yang kita cita-citakan untuk diraih.

Cukuplah aku membual teori tentang rasa apa yang menggerakkan semua manusia, sekarang aku akan memakai bahasa manusia untuk menjabarkan teori itu. Setahun yang lalu, tepat hari ini, aku berjanji kepada salah satu orang yang kala itu benar-benar membuat hatiku terluka, menganga, sakit luar biasa terhadap satu rasa. Janji yang aku ucap kala itu adalah aku akan mewujudkan apa yang aku gambarkan dari jalan hidup yang sudah aku tentukan. Waktu itu mungkin aku hanya terdorong oleh perasaan terluka dan tidak terima, tidak ada logika sama sekali untuk menimbang apa yang keluar dari mulut itu. Sekarang, setahun dari saat aku mengucapkan hal itu, aku menyaksikan bahwa hidupku benar-benar terjadi mirip dengan apa yang aku bayangkan saat itu. Tidak mirip persis dari hari ke hari, tetapi dari hasil dan gambaran besar dari apa yang aku kerjakan dan alamimirip sekali dengan apa yang aku bayangkan saat aku mengucap sumpah itu. Sumpah yang sampai sekarang terus membakarku untuk menjadi terus lebih baik dari hari ke hari.

Jadi, setelah menyimak cerita diatas apa yang dominan menggerakkanku sampai aku menjadi seperti hari ini? SAKIT. Benar rasa sakit itu mungkin yang awalnya menggerakkanku untuk berlari lebih cepat dan membuktikan sesuatu. Tapi tak berapa lama kemudian aku menyadari bahwa apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang konyol. Tidak ada ‘bunga jiwa’ yang tumbuh indah saat dia disirami oleh kebencian dan kemarahan. Akhirnya aku memilih untuk berterima kasih atas sakit itu, menerima semuanya dan lebih mencintai diri sendiri dan Tuhan yang menciptaku. Aku jadi melihat bahwa orang itu adalah guruku yang telah mengajarkan satu pelajaran hidup yang terpenting yaitu hidup untuk menyalakan impianku. Pelajaran penting lainnya adalah aku mengalami langsung bahwa suatu keputusan yang didorong oleh emosi yang kuat akan menjadi pendorong yang kuat sehingga mampu menggerakkan semesta untuk membantu mewujudkannya. Diakhir perjalanan setahun itu akhirnya aku melihat kesejatian diri, kemurnian cinta dan keberanian untuk memilih. Satu tahun telah berlalu dan di akhir masa setahun itu aku bisa dengan bahagia dan tulus untuk mengucap TERIMA KASIH atas semua yang terjadi. Tuhan telah memilihkan jalan keras dan terjal untukku belajar, dan aku bersyukur telah menjalaninya.

- Memori dari kenangan satu tahun yang lalu -

Palestine… tangisan umat manusia

Posted by: oktamalandi on: January 20, 2009

Setelah hampir 23 hari Israel menghancurkan kota-kota di jalur GAZA akhirnya kegilaan itu berhenti juga. Begitulah siaran yg aku lihat di TV Al Jazeera, Minggu 18 Januari 2009. Korban yang dikabarkan adalah kurang lebih 1300 orang, yg separuhnya anak-anak dan wanita, serta hampir 5000 yang terluka. Jumlah yang mengerikan dan betapa manusia bisa begitu kejamnya kepada sesamanya.

Jika itu dinyatakan sebagai perang, maka pertanyaannya adalah perang terhadap siapa? Era informasi menunjukkan kekuatannya saat apa yang terjadi di palestina hampir dalam waktu yang bersamaan dapat dilihat juga di televisi negara-negara ini. kesedihan, keputusasaan dan kemarahan terlihat diwajah para penduduk kota-kota di Gaza. Di satu sisi dapat dilihat juga bagaimana para pemimpin negara dengan berbagai argumentasinya salaing menyalahkan dan membela siapa yang benar.

Di negeri ini sendiri banyak juga aksi yang dilakukan oleh masyarakat terhadap apa yang terjadi di palestina. Ada yang mengumpulkan dana dan melakukan demo mengutuk keras kejahatan itu dengan aksi-aksi yang menurutku lucu tapi sekaligus sangat mengikuti perkembangan jaman – salah satunya adegan melempar sepatu ke wajah presiden Bush -, dan ada yang lebih bermanfaat dengan mengumpulkan dana. Bagiku adalah sesuatu yang tidak masuk akal saat ada yg mengajak untuk menjadi laskar jihad. Sungguh niat yang mulia, tetapi juga agak menggelikan karena bisa dibayangkan bagaimana lebih merepotkan untuk memberangkatkan mereka.

Ada satu aksi yang membuatku mengerutkan dahi dan sedikit meringis sedih -ngenes, bahasa jawanya- saat melihat anak-anak SD dan TK di suatu daerah melakukan demo dengan meniru orang-orang dewasa yang melempari foto presiden Bush dengan sepatu dan menginjak-injaknya. Ironisnya lagi aksi itu dibimbing oleh guru-guru mereka. Yang kubayangkan saat itu bagaimana jadinya anak-anak itu tumbuh saat dewasa kelak. Jika saat masih kecil saja mereka sudah diajarkan untuk melakukan kekerasan dan cara-cara jalanan untuk menyampaikan ketidak setujuan mereka maka apa jadinya saat mereka lebih besar. Itu belum seberapa saat membayangkan bagaimana jika mereka tumbuh menjadi orang-orang pembenci karena jika ada yang tidak disuka maka menjadi terlihat wajar untuk mereka mengungkapkan ketidak sukaannya dengan cara yang anarkis.

Apa jadinya bangsa ini jika anak-anaknya dididik dengan cara seperti itu? itu yang membuatku sedih. Karena bagaimana cara suatu bangsa mendidik generasi mudanya itu pulalah yang akan menentukan nasib bangsanya.  Itu pula yang katanya menjadi alasan sesungguhnya dari serangan Israel ke Jalur Gaza, yaitu membunuh anak-anak Palestina untuk memutus rantai calon-calon pejuang kemerdekaan Palestina sebelum ia tumbuh besar dan berbahaya. Hal itu terjadi karena dalam waktu yang tidak begitu lama sebelum serangan Israel, Imam besar Hamas memwisuda 3500 hafidz (penghafal Al Qur’an) yang masih berumur belia. Entah kabar itu benar atau tidak, tetapi dengan melihat sejarah Israel dengan segala kecurangannyam, maka hal itu sangat mungkin benar. Dan jika itu benar maka aku hanya bisa berdoa semoga laknat Allah ditumpahkan kepada bangsa yang gemar menumpahkan darah ini. Semoga kedamaian secepatnya menaungi daerah itu dan pada akhirnya agama tidak dijadikan lagi kambing hitam dari perseteruan yang terjadi. Karena agama tak pernah mengajarkan kekerasan dan agama untuk bisa membawa kedamaian saat agama dibimbing oleh hati nurani.

Puasa Buku

Posted by: oktamalandi on: December 23, 2008

bookPosting ini masih berkaitan dengan posting sebelumnya yang ini dan yang itu. Disana aku bercerita tentang keadaanku yang sedang overload kapasitas otak dan sedang dalam proses defragmantasi dan pembersihan. Salah satu tindakan yang menurutku bisa membantu proses itu adalah dengan puasa membaca.

Jadi selama 1 bulan ini aku akan berhenti untuk membaca buku-buku selain untuk kepentingan referensi kerjaan dan stop terhadap email-dan blog menarik. Sebab setelah aku amati, ternyata hal ini yang membuatku merasa seperti sekarang. Dari sistem kesetimbangan masa hal itu juga ada benarnya, karena jika informasi itu dianggap sebagai masukan, maka proses dalam otakku tidak seimbang antara masukan dan keluaran. Info yang masuk sangat banyak tapi aksinya sedikit sekali. Dengan adanya ketidakseimbangan wajar sekali jika otak ini terasa penuh. Jadi sekarang proses unlearninglah yang harus aku jalani. Karena jika tidak maka bisa jadi otak ini akan overload dan kemudian membakar informasi yang sudah masuk sebelumnya. Sayang sekali jika hal itu sampai terjadi.

Untuk mencegah hal itu terjadi lagi, setelah ini aku akan menempatkan proses membaca itu sebagai proses pencarian referensi dan sebagai aksi dari pencarian sintesis dari suatu hal yang sedang terjadi. Doakan hal ini mudah dilalui, karena bagiku membaca adalah guilty pleasure. . For better Andik, then I will do it.

- Jadi teringang kata-kata seseorang tentang stuck. makasih, mungkin ini salah satu sebabnya, -

Selamat hari Ibu, wahai perempuan

Posted by: oktamalandi on: December 23, 2008

Dibelakang pria hebat pasti ada wanita besar sebagai pendukungnya…

Entah sejak kapan aku pernah mendengar kutipan diatas, tapi yang pasti semakin aku dewasa, semakin mengertilah bahwa pernyataan ini benar. Pentingnya peran seorang puan bahkan membuat satu tanggal yang khusus untuk didedikasikan pada ibu-ibu di Indonesia. Namanya hari Ibu, yang diperingati setiap tanggal 22 Desember 2008.

Kemarin bersamaan dengan hari Ibu, my beloved mom had her 51st birthday. She’s quite old enough today, even every day I watch her, she looks getting older faster then actually she is. I love u mom, I hope best wishes happen to u, His blessing surround u and joy and happiness occur all days u’ve been through. I always love and proud of u mom…:D

Seorang ibu adalah harta terbesar dari seorang anaknya, pujaan hati sepanjang hidupnya, dan keramat untuk kehidupan. Kasih sayangnya tidak pernah berbatas, seperti matahari yang memberi tanpa ada berharap mendapat kembali. Seperti matahari pula kasihnya untuk anak-anaknya adalah suatu keniscayaan yang hadir dari setiap sentuhan dan tindakannya.

Tetapi di hari yang sama aku berada di pulau Batam, membantu dua training sekaligus. Aku sangat menikmati pekerjaanku ini, karena selalu ada kejutan berbeda dari setiap kota yang dikunjungi. Kejutan pulau Batam kali ini untukku adalah bertemu dengan seorang perempuan luar biasa yang merupakan istri dari orang nomor satu di propinsi ini. Seorang puan hebat dengan segala pencapaiannya, sangat cerdas, bersemangat dan di umurnya yang lebih dari 60 tahun masih punya banyak impian, visi yang masih dikejar. Satu hal yang paling aku kagumi adalah semangatnya untuk terus belajar dan berbagi. Dua hal itu terus memancar dari pribadinya yang memang luar biasa itu.

Perempuan-perempuan seperti itulah yang selalu membuatku kagum dan tertarik, perempuan yang dengan semangatnya mewujudkan semua impiannya, dengan kasihnya memeluk semua yang ada disekitarnya untuk membuatnya terus bertumbuh, dan dengan kesabarannya membimbing anak-anaknya menjadi manusia berguna untuk lingkungan, bangsa dan agamanya. Menjadi penyejuk dan api bagi suaminya. Hehehe aku menjadi semangat untuk mencari belahan jiwaku itu, seorang perempuan dengan segala kelemahan dan kekuatannya menjadi pelengkap dan pendorongku. Pesan ibu gubernur malam itu padaku adalah carilah pendampingmu dengan bersungguh-sungguh. Kata-kata pendek yang keluar dari kebijaksanaan perjalanan hidup setelah sekian lama. Mungkin kata-katanya biasa terdengar, tetapi satu hal yang berbeda adalah adanya aura yang tidak bisa dijelaskan yang menguatkan pesan itu langsung masuk ke kesadaran diri. Pesan seperti inilah yang dinamakan hikmah dan akan menjadi penjuru pengarah keputusan dalam kehidupan. Terimakasih ibu.

Dalam perjalananku aku selalu dikelilingi wanita-wanita hebat yang membuatku selalu menaruh hormat dan sayang kepada mereka. Perempuan yang dengan pencapaian, kasih, dan kesabarannya selalu menginspirasiku. Entah kapan salah satu dari mereka akan menjadi ibu dari anak-anakku, mungkin Allah masih menyimpankan salah satu bidadarinya untukku. Itu yang aku percaya…:D

NB : Jika ada yang bertanya kriteria macam apa perempuan itu, japri (oktamalandi@gmail.com) aja y, siapa tahu kita bisa hang out bareng….:D

Guru…trainer…fasilitator

Posted by: oktamalandi on: December 22, 2008

facilitating, mentor, coach

Obrolan semalam dengan salah satu kawan perjalanan memaknai hidup membawaku ke suatu pemahaman baru tentang suatu proses pembelajaran. Beberapa waktu yang lalu aku menulis tentang betapa penuhnya kepala ini dengan infomasi dan ilmu di mind basket. Setelah menulis post itu aku memutuskan untuk berhenti sebentar dari hobiku membaca dan percayalah itu sesuatu yang berat untukku. Aku bisa membaca entry blog berjam-jam, membaca koran sampai tuntas dan membaca buku setebal 400 halaman tanpa putus. Nafsuku menggila saat menemui buku yang menarik. Tapi kemarin aku sempat merasa bahwa semua yang kupelajari tidak tampak bekasnya di kehidupan sehari-hari. Aku merasa bahwa aku sudah tahu banyak tapi entah mengapa knowing something isn’t compare to doing that.

Dalam obrolan dengan kawanku itu, feedback yang paling mengenai bahwa aku membaca hanya untuk mengumpulkan informasi, membaca hanya untuk kepuasan membaca. Tidak pernah membawa apa yang aku dapat dari buku sebagai refensi, membaca hanya untuk mengumpulkan info. It’s like compailing many things that you get freely and might be useful someday but in mean time you don’t realize that your memory more vacant. Pada akhirnya seolah aku merasa terapung diantara gelembung informasi tanpa sadar bahwa aku belum bergerak.

Kawanku itu mengingatkanku bahwa hidup yang sepenuhnya adalah hidup yang berbuat. Tidak sekedar menjalani hidup dari leher sampai kepala (berpikir), tetapi menjalani hidup dalam perbuatan. Apa yang menghambatku karena aku tidak benar-benar menjalani hidupku sendiri, tidak benar-benar menjadi aktor dari film kehidupanku sendiri. Itu yang dikatakan kawanku.

Menjadi aktor artinya adalah menjalani kehidupan sebagai pelaku, bukan sekedar pengamat. Apa yang menghambatku untuk menjadi aktor? Karena dulu aku memilih untuk menjadi pelatih, menjadi pembimbing dari orang-orang lain untuk mencapai impian. Tapi satu hal yang dilupakan adalah manusia cenderung melihat apa yang sudah diperbuat (mungkin itu sebabnya kenapa filsof pilihannya hanya dua, gila atau inspirator. Menjalani hidup dengan sepenuh-penuhnya.

Cita-citaku pada akhirnya adalah menjadi seorang fasilitator kehidupan. Apa yang membedakan guru. trainer dan fasilitator? Guru adalah seseorang yang dicontoh, dan diikuti perkataan dan perbuatannya, sedangkan trainer adalah seseorang yang menguasai suatu keahlian dan mengajarkan orang lain untuk menguasai keahlian itu. Sangat berbeda dengan peran fasilitator. fasilitator adalah seseorang yang membuka dirinya untuk orang lain dan membantu proses berkembangnya orang lain. Sungguh kebahagiaan tertinggi saat  melihat seseorang mencapai potensi tertingginya, melepaskan segala ketakutan dan terbang tinggi dengan impiannya.

Pada akhirnya aku memaknai bahwa perjalanan yang aku lalui adalah perjalanan untuk memaknai arti manusia itu dengan setinggi-tingginya karena itu jalan yang harus dilalui untuk menjadi pelatih hebat. satu-satunya jalan adalah dengan berbuat sekaligus berpikir, menjadi aktor sekaligus pelatih. Jalan panjang menuju kesempurnaan pelatih.

Seni Meraih Impian – Mengukur Neraca Diri -

Posted by: oktamalandi on: December 18, 2008

–Tulisan dibawah ini adalah resume dari pengajian SIaware pada tanggal 14 Desember 2008 –

Dekatilah kebenaran itu walaupun kakimu berdarah-darah dalam perjalanannya.

Surat Ar Rahmaan ayat 1-9 :

(Tuhan) Yang Maha Pemurah(1) Yang telah mengajarkan Al Qur’an(2) Dia menciptakan manusia(3)Mengajarnya pandai berbicara(4) Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan(5) Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya(6) Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)(7) Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu (8)Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca it(9)

Itu adalah potongan kalam ilahi yang dibaca sebagai permulaan dari pengajian siaware minggu 14 Desember 2008. Topik bahasan pengajian kali ini adalah meneruskan materi sebelumnya yaitu seni meraih impian dengan bahasan mengukur neraca diri. Ustadz dari pengajian kali ini adalah ustadz Hanan yang mengisi materi minggu sebelumnya juga.

Sebelumnya ustadz bertanya 2 buah gambar yg kepada kami yaitu

—gambar menyusul —

Dua gambar ini digunakan oleh ustadz untuk menunjukkan dua kondisi, yaitu seimbang (2) dan tidak seimbang (1). Lalu dari dua keadaan ini mana yang menurut teman2 lebih baik, indah atau apapun lah.

Kebanyakan memilih keadaan kedua, Cuma 2 orang dari yg hadir yg memilih kondisi 1 (tidak seimbang). Diskusi jadi menarik karena yang memilih kondisi 1 dengan alasan karena dari ketidak seimbangan itu terkesan adanya kedinamisan. Dan kedinamisan itu yang membuat semuanya berjalan. Saat pertanyaan dilanjutkan apakah yang baik itu selalu muncul dari ketidakseimbangan, maka jawabannya menjadi bercabang bahwa sebenarnya ketidakseimbangan itu dalam alam ini akan menuju keseimbangan, sehingga posisi paripurna itu adalah saat terjadi keseimbangan.

Ustadz Hanan kemudian menyampaikan materi tentang neraca diri. Neraca dalam pengertian Al Quran yg telah dibacakan adalah ukuran atau timbangan, jika diartikan lebih filosofis lagi neraca adalah sebuah keseimbangan. Allah dalam menciptakan segala sesuatunya di bumi ini selalu menciptakan neraca/keseimbangan bersamanya. Dan didalam surah Ar Rahman dijelaskan bahwa tujuan penciptaan neraca itu adalah agar kita berbuat adil, agar tidak melampaui batas dan menguranginya. Ada 3 perintah yang terkandung dalam ayat itu, dan serasa diulang-ulang. Menurut ilmu Kalam, jika suatu perintah dalam Al Qur’an ditegaskan berulang dalam satu ayat itu menunjukkan bahwa Allah menekankan pentingnya perintah itu

Neraca ini menjadi penting untuk menuju kesempurnaan, karena menurut ustadz, kesempurnaan itu adalah keseimbangan yang terabadikan. Karena itu orang yang hidupnya tidak seimbang, yaitu yang tidak memenuhi hak-haknya dan kewajibannya, maka dia tidak akan mencapai kesempurnaan manusia. Ada quote yg menarik bahwa manusia itu adalah makhluk bumi dan langit, artinya keberadaannya mencerminkan 2 unsur itu, yaitu tubuhnya yang merupakan perwakilan unsur bumi, dan ruhnya adalah milik langit (Allah). Jadi saat kita tidak memenuhi kebutuhan unsur bumi dan langit itu, maka dapat dipastikan bahwa hidupnya tidak seimbang. Bilangan waktu hidup seseorang di bumi rata-rata adalah 60 tahun, sedangkan akhirat dijanjikan akan muncul selamanya, jadi konsekuensi logisnya jika kita adil atau menjaga keseimbangan itu maka usaha kita mencari bekal akhirat haruslah lebih besar dibandingkan usaha kita mencari bekal di dunia. Karena itu mengingat kehidupan akhirat adalah kebutuhan setiap muslim untuk menjalani kehidupannya di bumi. Satu lagi seseorang tidak bisa dikatakan sempurna jika hidupnya tidak terus seimbang, karena itu kekonsistenan usaha kita untuk terus berbuat baiklah yang menentukan apakah kita sudah menjadi manusia yang sempurna atau belum.

Dalam kesempurnaan itu ada hal yang menarik bahwa kesempurnaan itu membutuhkan ketidak sempurnaan. Maksud dari pernyataan ini adalah tidak mungkin dalam kehidupan kita bisa terus sempurna (terus sehat, kaya, tidak ada masalah, tercapai semua keinginan, menang atau apapun), hal-hal yang tidak sempurna yang terjadi itu adalah mekanisme Allah untuk membuat sesuatu itu menjadi seimbang. Analogi sederhananya adalah jika manusia tidak punya kelemahan atau keburukan, maka dia bukanlah manusia lagi, karena makhluk yang sempurna hanyalah malaikat. Tujuan adanya ketidak sempurnaan itu ada 2 hal yaitu untuk membuat kita bersyukur terhadap nikmat yang diberikan dan sarana kita untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Kesempurnaan akan selalu terjadi dalam lingkungan kebaikan dan merupakan perpaduan dari kebaikan-kebaikan. Kesempurnaan tidak mungkin terjadi saat kebaikan dan keburukan bercampur. Analogi yang disampaikan ustadz adalah susu yang dicampurkan kopi tidak mungkin tetap wujudnya adalah susu, berbeda dengan saat dicampurkan gula, wujudnya tetap susu, tetapi susu itu sekarang juga mengandung unsur gula. Jadi kesempurnaan tidak mungkin terjadi jika masih ada keburukan atau dosa masih bercampur. Karena itu saat seseorang memilih jalan kesempurnaan maka saat itu juga dia memilih untuk menjaga dirinya dari berbuat dosa. Jika seseorang terbiasa berbuat dosa kecil maka dia akan menuju ke berbuat dosa besar, dan saat dia tidak menyadari hal itu maka dia akan menuju ketidak seimbangan yang mengarahkan pada kehancuran dirinya.

Yang terakhir sebagai manusia, kita membutuhkan tuntunan untuk menjadi manusia yang sempurna yang dijanjikan surga sebagai imbalannya. Karena itu satu-satunya tuntunan yang akan mengarahkan kita ke kesempurnaan adalah tuntunan yang membuat hidup kita selalu seimbang. Dan tuntunan itu adalah syariat. Mengapa syariat? Karena pertama syariat datangnya dari Allah yang menciptakan kita dan keseimbangan itu sendiri, jadi tidak mungkin dengan menjalani syariat itu tidak membawa kita ke penciptanya. Jadi bisa dikatakan bahwa syariat itu adalah sistem yang akan menciptakan keseimbangan hidup, jika ingin hidup seimbang maka hiduplah sesuai syariat. Untuk menjalani itu memang banyak sekali godaannya, hal itu wajar karena imbalannya juga luar biasa, yaitu surga. Jadi kembali lagi pilihannya ada ditangan kita, menjadi ahli surga atau ahli neraka.

Pokok bahasan pengajian kali ini memang cukup berbobot dan membuat akumenjadi banyak berpikir terhadap hidup yang selama ini sudah aku jalani, akan berakhir dimana hidup ini jika aku terus jalani dengan cara ini nampaknya sudah mulai tampak ujungnya. Dan jujur itu membuatku takut. Karena itu sebagai manusia tidak mungkin aku akan luput dari kesalahan, tapi Allah juga sudah membimbing bagaimana cara kembali ke jalan yang benar setelah berbuat salah.

Sungguh Islam agama yang sempurna dan sesuai dengan fitrah-nya. Pada akhirnya yang bisa kupinta adalah kekuatan dari Allah untuk bisa diberi kekuatan untuk menuju kebaikan dunia dan akhirat serta dijauhkannya dari api neraka. Karena aku baru sadar bahwa selama ini aku hanya berdoa untuk selamat dunia akhirat saja dan lupa bahwa banyak hal-hal yang dilakukan akan mengarahkanku ke siksa api neraka. Selalu sesuatu yang baik itu tidak mudah untuk didapat, karena itu juga surga juga tidak semudah itu untuk diraih, karena membutuhkan penyerahan diri sepenuhnya kepada kebaikan dan tujuan Allah menciptakan diri ini ke dunia.

Mind Basket

Posted by: oktamalandi on: December 12, 2008

brainPernah ga berpikir bahwa otak itu ibaratnya adalah sebuah keranjang? Saat kita memasukkan barang-barang ke dalam keranjang, maka biasanya yang dilakukan adalah sekedar menumpuk dan memasukkan sebisa-bisanya ke dalam keranjang itu.

Jika otak diibaratkan keranjang, maka apakah keranjang itu sudah berubah menjadi sampah atau menjadi keranjang pengetahuan yang menyimpan semua kemuliaan nilai seorang manusia.

Pemahaman ini muncul begitu saja dikepalaku saat menonton teve. bayangan kekerasan, gosip, acara mengumbar syahwat dan lainnya begitu kental mewarnai acara-acara teve Indonesia sekarang. Memang masih ada acara-acara yang menyebarkan optimisme, cinta dan kebahagiaan diantara acara-acara sampah lainnya.

itu baru dari televisi, film Indonesia juga mengalami hal yang sama. Disamping ada film Laskar Pelangi yang ditonton lebih dari 3 juta penonton, jauh lebih banyak film indonesia yang mengumbar jeritan dan lekuk tubuh pemainnya. Genre semakin tidak jelas, dan pada akhirnya aku jadi bertanya apakah bangsa ini tidak belajar dari sejarahnya? Karena dulu film indonesia juga mengalami hal yang sama.

Untuk internet, aku melihat bahwa hanya media ini yang antara sisi baik dan buruknya cukup berimbang. Artinya adalah pilihan kita yang menentukan apakah media ini akan berpengaruh buruk atau tidak pada pikiran kita. Satu hal yang menarik dari media ini adalah kemungkinan seseorang tenggelam dalam data dan ilmu pengetahuan sehingga menjadi bingung apa yang harus dilakukan dengan pengetahuannya itu.

Seringkali kita tidak menyadari apa yang kita lihat, dengar, pikir atau rasakan. Seolah-olah semuanya terjadi begitu saja dan tidak dalam kontrol kita. Padahal sama dengan keranjang barang atau keranjang sampah. Otak suatu saat bisa juga penuh dan perlu dikosongkan dulu jika ingin memasukkan sesuatu yang baru. Hal ini menjadi menarik, karena akhirnya aku jadi ingat dengan salah satu temanku yang dari pertama kali aku kenal selalu klaim bahwa dia bukan orang yang cerdas, tetapi pencapaiannya tidak mencerminkan itu.

Dia meraih apapun yang kebanyakan diidamkan oleh teman-temanku di ITB, IP Bagus, kerja di perusahaan besar dengan gaji yang otomatis besar dan mungkin alakn meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Setiap kali disinggung pencapaiannya dia selalu bilang bahwa dia punya cara cerdas untuk mengakali keterbatasan kecerdasannya. Dan baru-baru saja aku menyadari maksud dia dengan cara cerdas itu. Cara cerdas itu namanya adalah prioritas dan berpikir sederhana.

Sungguh manusia-manusiai seperti dia adalah manusia yang diberkati, karena dia sudah cukup tahu tentang dirinya dan bagaimana memanfaatkan apa yang dia punya dengan sebaik-baiknya. Ambisinya dipasang setinggi langit, sambil tangan, kaki dan pikirannya digunakan sepenuhnya untuk membangun tangga menuju apa yang dia cita-citakan. Andai aku bisa semudah itu tidak memikirkan apa yang terjadi, lebih banyak bekerja daripada berpikir dan tidak terganggu dengan apa yang telah dicapai orang lain.

Jalan yang membutuhkan konsistensi dan kedisiplinan untuk menjadi seperti itu. Dan itu yang aku percaya menjadi benih dari keberhasilan. Sungguh pertempuran terbesar adalah melawan hawa nafsu sendiri.

NB : Terimakasih dek kau telah ajarkan aku untuk hal ini

Silaturahmi Memperpanjang Rezeki

Posted by: oktamalandi on: December 7, 2008

Suatu malam, diberanda belakang IIB 8 teman-temanku yang berasal dari 2 organisasi yang berbeda berkumpul untuk membicarakan kemungkinan kolaborasi mereka di suatu acara. Sungguh indah suasana yang terjadi dan dari komunikasi ini walaupun masih belum tahu apa hasil konkretnya

Silaturahmi adalah salah satu jalan memanjangkan rezeki, itu kata yang selalu temanku Sano ucapkan. Dan itu dibuktikan betul oleh teman2ku yang menjadi pengusaha-pengusaha pemula ini. Dengan segala keterbatasan, maka impian akan terwujudkan saat kita bisa menggabungkan segala sumber daya, dan sumber daya yang paling luar biasa adalah teman-teman dan otak. Sungguh bahagia bisa berada diantara teman-teman satu perjuangan.

Ada perasaan haru bahwa diantara sekian keterbatasan dan setelah perjuangan menyelesaikan kuliah di kampus gajah duduk ini, masih ada idealisme yang mereka coba pertahankan dengan segala konsekuensinya. Disaat yang sama teman2 yang lain lebih memilih untuk belajar dan mencari penghidupan dari korporasi2 dunia yang menggerogoti alam Indonesia.

Semua kembali pada pilihan pribadi, dan tidak boleh seorangpun menyalahkan atau membenarkan karena kita bukan Tuhan. Namun ada satu kalimat dari Sano yang bisa direnungkan

” Egois sekali kita saat kita memilih untuk tidak peduli terhadap keadaan bangsa ini dengan berputus asa atau tidak percaya bahwa negara ini masih bisa diperbaiki selama orang-orang didalamnya masih mau berusaha”

Terimakasih Sano, Enang dan teman-teman yang lain atas malam yang mengesankan ini, aku yakin bahwa semuanya akan menimbulkan dampak saat kita bisa berkolaborasi untuk berkontribusi pada bangsa ini. Saatnya sekarang kita bergandeng tangan untuk mencapai tujuan, bukan meributkan cara siapa yang harus dipakai.