Posted by: oktamalandi on: November 24, 2009
Selamat pagi dunia!!
Hari ini aku menulis ini pada waktu matahari baru saja memulai perjalanannya. Saat ayam masih terdengar kokoknya dan sang muadzin baru saja pulang dari suraunya. Semalam aku baru tidur jam 3 dini hari tetapi entah apa yang terjadi jam 4.30 aku terbangun dari tidur itu dan rasa pertama kali yang kurasakan adalah LUAR BIASA..!!
Rasanya tidur yang hanya sebentar itu sudah cukup untuk mengurai semua lelah dari tubuh dan hati berbunga-bunga semangat untuk menjalani hari. Pagi ini aku bahagia. Bahagia bahwa aku masih diizinkan hidup untuk sehari lagi, bahagia bahwa tubuh ini masih bangun tak kurang suatu apapun, bahagia bahwa aku masih merasakan apapun yang aku butuhkan adalah cukup dan terutama bahagia bahwa aku akan menjalani hari lain yang luar biasa untuk beribadah kepada-Nya dan bermanfaat untuk orang lain.
Perasaan ini jujur jarang aku alami, dan aku sudah menamai perasaan ini sebagai perasaan seimbang. Cukup! Tidak lebih dan tidak kurang. Rasanya begitu tenang, aman, nyaman dan bersyukur. Bersyukur terhadap semua yang aku punya dan aku alami, bersyukur terhadap kesempatan-kesempatan yang akan aku alami. Dan terutama bersyukur bahwa aku masih memijak bumi untuk memberi arti.
Pikiranku sempat mengembara bahwa mungkin inikah yang selalu dirasakan bagi orang-orang yang selalu berserah dan bersyukur. Orang-orang yang telah menemukan kesejatian hidup dan maknanya di bumi ini. Orang-orang yang telah mengalami pencerahanterhadap arti tentang hidup itu sendiri. Aku tidak berkata bahwa aku telah sampai pada tingkatan mereka. Karena dosaku masih menggunung, ilmu dan amalanku masih jauh untuk mencapai tahap itu dan hati ini masih belum sampai pada keimanan tak tergoyah, berserah dan terus bersyukur.terhadap semua yang terjadi.
Perasaan yang aku rasakan pagi ini adalah apa yang aku namakan seimbang, tak berani aku berharap ini akan terus terjadi setiap paginya. Namun apa yang aku rasakan pagi ini hanya sanggup aku ungkapkan dengan satu doa pendek setelah Subuh pagi tadi ” Terima kasih Allah, telah Engkau anugerahi hamba ini begitu banyak kenikmatan, bimbinglah hambamu ini agar bisa selalu mensyukurinya dan berserah terhadap setiap ketetapan-Mu” . Itulah mungkin jalan menuju SEIMBANG.
Posted by: oktamalandi on: November 14, 2009
Integritas adalah tentang melakukan apa yang dikatakan, atau istilah kerennya walk the talk. Konsep yang sudah setua umur peradaban (walaupun aku belum melakukan risetnya), dan mendasari segala hubungan manusia. Integritas akan mengarah kepada kepercayaan dan pada akhirnya akan mengeliminasi suatu ide akan tetap lestari atau tidak.
Integritas mengakar pada nilai sejati manusia, dan proses untuk meraihnya adalah sebuah perjalanan seumur hidup. Meningkatnya integritas akan mengarahkan seseorang untuk menduduki tempat tertinggi dalam masyarakat dan pada akhirnya akan menjaga nilai kemanusiaan tetap mengarah kepada keadaan harmony dan sejahtera.
Agama sebenarnya sudah mengajarkan hal itu, namun seringkali nafsu yang menghalangi seseorang untuk melihat kedalam dirinya dan menjaga terus integritasnya.
Kesadaran tentang integritas ini tiba-tiba terlintas saat aku mendengar temanku berkomentar tentang ajakanku untuk mengikuti salah satu training yang menurutku mmengubah hidupku dan kemudian mencontohkan prosesku yang aku alami untuk menjelaskan manfaatnya. Ternyata itu malah dianggap sesuatu yang lucu dan memperlihatkan bagaimana integritasku dimata dia. Pengalaman itu menyadarkanku tentang apa itu integritas dan bagaimana caranya untuk menjaganya. Apa itu integritas sudah aku sebutkan diatas, tentang bagaimana cara menjaganya, satu hal yang terlintas dikepalaku adalah dengan mendengarkan suara hati.
Suara hati adalah hal abstrak yang terkadang terkesan mengada-ada, tetapi buatku dan orang-orang setipe denganku yang lebih mudah untuk beresonansi dengan inner self dibandingkan outerself maka hal seperti ini akan lebih mudah dipahami. Pada dasarnya suara hati ini sangat sederhana, ini adalah alat yang diberikan Allah untuk membimbing manusia menuju kesejatiannya, mencapai yang terbaik dari dirinya dan untuk orang lain dan pada akhirnya meniru cara kerja Tuhan untuk menjaga kehidupan. Suara hati akan selalu membimbing kebaikan dan akan memisahkan mana yang buruk dan yang baik. Sangat sulit menjaga suara hati ini agar tetap terdengar, tetapi agama sudah memberi tuntunannya dansatu hal yang paling mematikannya adalah nafsu.jadi jika suara hati akan selalu mengarahkan kita menuju kebaikan, maka nafsu pasti akan mengajak kita untuk menuju keburukan. Dua hal ini ada dalam jiwa, dan siapa diantara kedua itu yang memimpin, maka apa yang akan dihasilkan orang itu akan terlihat, apakah manfaat atau kerusakan.
Jadi kesimpulan dari tulisan diatas adalah untuk menjadi seseorang yang berintegritas maka aku hanya perlu mendengarkan suara hati, dan memanajemen nafsu.. Itu berarti aku perlu terus untuk sadar terhadap semua pilihan yang aku ambil dan terus self-aware terhadap apa yang terjadi disekitarku dan apa yang aku rasakan. Hal itu adalah jalan yang panjang dan mungkin tidak mudah, tetapi hanya integritaslah yang akan menentukan kualitas dari diri ini.
Posted by: oktamalandi on: October 23, 2009
Buku ini bukan buku baru, tapi buku yang dari lama sudah ingin aku baca. Buku tentang Cameron Johnson (CJ) yang masih berusia 21 tahun tapi sudah berhasil mendirikan 12 perusahaan dan menjadi salah satu pengusaha muda IT yang cukup dikenal. Bukan kisah selayaknya Mark Zuckerberg atau Sergey Brin atau pula Steve Jobs yang dengan kecermelangannya mampu menciptakan suatu aplikasi atau produk yang spektakuler dan meledak dalam waktu singkat. Kisahnya lebih sederhana tapi apa yang dia ajarkan dari buku itu sungguh adalah mutiara hidup yang bisa diterapkan buat siapapun yang ingin menjadikan dirinya seorang entrepreneur.
Pak Kafi Kurnia pernah bilang bahwa menjadi seorang entrepreneur itu biasanya cuma didorong oleh dua hal yaitu PENASARAN atau KEPEPET ( tapi dari pengamatanku sih, ada juga yang penasaran untuk memepetkan diri sendiri..:) Nah cerita si CJ ini dimulai dari umur 9 tahun saat dia mulai mendirikan usaha pertamanya yang jualan kartu ucapan dan hasil printing lainnya setelah dia dibelikan seperangkat komputer dan printer pada umur 9 tahun. Itu bisnis pertama dia, seterusnya dia silih berganti mendirikan, menjual dan menutup bisnis selama hampir 12 tahun. Bisnis keduanya adalah jualan boneka online, bisnis ketiga adalah jasa penyaringan email sampah, keempat mall online, kelima pembuat web, keenam perusahaan iklan berbayar, ketujuh perusahaan penyedia avatar IM, kedelapan perusahaan jasa website khusus pelayanan pelanggan dealer mobil, kesembilan, perusahaan jual beli voucher belanja, kesepuluh perusahaan software, kesebelas perusahaan jasa pelayanan system IT terintegrasi dan kedua belas perusahaan konsultan bisnis. Tidak semua bisnis itu dia jalani saat ini, tapi lebih banyak saling bergantian, karena sambil dia mendirikan sebagian besar perusahaan itu dia juga masih sekolah.
Banyak hal yang dipelajari dari kisah hidupnya sebagai entrepreneur itu, pelajaran yang perlu diketahui oleh siapapun yang bercita-cita ingin menjadi entrepreneur. Aku sangat terpakau dengan bagaimana dalam usia semuda itu dia bisa punya pengalaman yang sedemikian luas, dalam dan kaya. Pelajaran yang mungkin hanya akan didapatkan oleh orang-orang yang sudah menjalani 10.000 jam mereka dalam bidang yang mereka pilih (ini mengutip buku Outliers-nya Malcolm Gladwell). Dia tidak berasal dari keluarga miskin yang kemudian dengan usaha kerasnya mencapai american dreams-nya. Dia adalah anak dari generasi ketiga yang mewarisi salah satu dealer Ford terbesar di Virginia. Dan dari penasarannya akhirnya dia bisa mendapatkan jalan hidup yang luar biasa seperti itu.
Mengutip buku outliers lagi, kesuksesan seseorang selain karena usaha pribadi tetap tidak bisa dilepas dari kesempatan dan warisan budaya yang mengaliri darah mereka. Kesempatan CJ klo boleh disebut adalah dia lahir dari keluarga kaya yang berprofesi sebagai entrepreneur, dia juga lahir di amerika dimana lingkungan bisnisnya sangat kondusif dan banyak sekali lomba-lomba dan tokoh panutan yang bisa diraihnya, dia juga mendirikan bisnis pada saat bisnis online masih baru mencari bentuknya dan kebetulan dia berada di amerika sebagai pusatnya bisnis online (ini bisa juga dilihat kecerdasan dia dalam menunggangi trend yang ada). Dan dari semua kesempatan dan warisan budaya seperti apa yang disebutkan di Outliers, tetap harus aku akui CJ adalah seorang yang luar biasa atas usaha dan kecerdasannya.
Sejak kecil dia sudah terbiasa dengan aura entrepreneurship yang ada dalam keluarganya, istilah2 akuntansi, kepuasan pelanggan dan manajemen sudah tidak asing dia cerna dari kecil. Bahkan saat usia 8 tahun dia mendapat kesempatan untuk mendapat kejutan dari Donald Trump (DT) hanya karena dia menuliskan kepada DT bahwa dia ingin melihat kamar yang dipakai untuk syuting film Home Alone 2. Sejak saat itu dia memutuskan bahwa dia ingin menjadi seorang entrepreneur seperti Donald Trump.
Ada beberapa poin yang dia cuma sampaikan dari pengalamannya selama 12 tahun menjadi entrepreneur. Lagi-lagi aku sungguh kagum bagaimana anak sekecil itu (btw dia lahir tahun ‘84) bisa mendapatkan insight sedemikian hebatnya.Berikut poin tentang kewirausahaan dan sedikit penjelasannya :
Demikian rangkuman buku indah yang dibuat oleh anak berusia 21 tahun. Selalu mengagumkan bagaimana pemahaman kita bisa berlipat banyak dengan membaca pengalaman orang lain. Seperti Einstein bilang – Experience is knowledge, the rest is just information -. Semoga apa yang aku tulis ini bermanfaat, dan semuanya akan bermanfaat jika memang apa yang dipelajari bisa membuat kita lebih mengenali diri sendiri dan berikutnya mengubah kita menjadi pribadi yang lebih efektif. Seperti Ibu Besar selalu bilang, yang penting bukan apa yang kamu tahu, melainkan apa yang kamu lakukan dari apa yang kamu tahu. Berikutnya aku akan merangkum Outliers dari Malcolm Gladwell yang sangat menarik dan First, Break All the Rules-nya Marcus Buckingham.
Terima kasih jika kalian sudah membaca sampai paragraf ini. Beberapa hal yang mengganggu dari buku You Call The Shots terbitan PT Elex Media ini adalah penerjemahannya kurang bagus, banyak kesalahan ketik dan lamanya buku ini masuk di Indonesia (terbit 2006 tapi baru dialihbahasakan 2008).
Posted by: oktamalandi on: October 22, 2009
‘ To compete against China ? Are you crazy ? Even we are not doing that ‘
Itu petikan obrolan terakhir yang aku tangkap antara temanku dengan salah satu mahasiswa DSM setelah kuliah hari ini (Senin, 19/10/2009), entah mengapa masih saja terngiang di telinga dan butuh penyaluran. Mahasiswa DSM itu adalah mahasiswa yang berasal dari Singapore dan orang yang sangat menarik dari kapasitas intelektual. Dia punya 1 gelar Bachelor, 4 gelar Master dan sekarang sedang menjalani studi doktoralnya. Sedangkan partner diskusinya adalah temanku yang MSM adalah orangyang lama berkecimpung di LSM terutama berkaitan dengan pemberdayaan UKM, salah satu ‘mutiara’ di angkatan kami.
Diskusi ini muncul setelah presentasi tugas Metodologi Penelitian dia tentang global value chain. Dari pemahaman dia, global value chain jika dieksekusi dan dilakukan dengan benar akan bisa me’leverage’ industri kecil yang terlibat didalamnya secara keseluruhan, dan akan berpengaruh pada competitive advantage dari industri-industri itu secara keseluruhan. Itu rupanya yang menjadi bahan perdebatan. Menurut mahasiswa DSM itu, hal itu sama saja dengan misi bunuh diri, karena dengan kualitas pemerintahan, infrastruktur dan industri yang masih seperti ini sudah berani untuk berkompetisi dengan ekonomi China yang bahkan berhasil memukul ekonomi Jepang, China dan negara Eropa barat lainnya. Aku tidak mengikuti diskusi yang sedang terjadi, tapi ada hal menarik yang langsung muncul di kepalaku saat perdebatan itu terjadi. Kesadaranku tentang menjadi bagian dari bangsa ini terusik dan tersinggung
Aku juga ingin berkata bahwa memang bangsa kami belum terurus dengan benar, benar memang apa yang kamu katakan bahwa masih banyak yang perlu kami perbaiki, tapi jangan pernah sebut impian salah satu dari kami adalah kegilaan. Harapan mungkin adalah satu-satunya harta paling berharga dari seseorang. Dan bangsa kami juga lahir dari impian segelintir dari bangsa ini kala itu, menghadapi kekuatan yang nampak tak terkalahkan berabad lamanya.
Bangsa kami adalah bangsa yang sangat beragam, 170 suku bangsa besar dengan berbagai latar belakang budaya, bahasa, dan karakternya masing-masing. Belum lagi bagaimana kekayaan laut, hutan, barang tambang, dan keindahan alamnya yang seringkali melenakan kami. Gemerlapnya bahkan menutupi hati nurani beberapa pemimpin kami sehingga mereka berkhianat pada amanah yang diembannya. Sungguh memang banyak kerja yang perlu kami lakukan. Karena itu tak apa kau sebut bangsa kami sekarang bangsa besar yang sedang sakit.
Justru aku bersyukur bisa hidup di negara seperti ini, begitu banyak perbedaan, begitu banyak sisi, begitu banyak kesempatan untuk menuai amal dengan membantu sesama. Aku masih ingat saat bagaimana cerita tentang bagaimana kami merebut kemerdekaan bangsa ini, bagaimana kakekku ikut mempertahankannya, atau bagaimana bangsa kami seringkali mengalami peristiwa berdarah-darah seperti peristiwa PKI, petrus atau kerusuhan dukun santet. Apa yang kami alami adalah sejarah yang menguatkan bangsa ini. Bagaimana akhirnya itu membuat kami tetap rukun walau tetangga sebelah rumah kami tidak satu agama, satu suku bangsa. Bagaimana kami kemudian memiliki bahasa Indonesia yang kami hormati dan kami gunakan bersama bahasa ibu kami masing-masing.
Terlalu banyak yang akan tertuliskan jika melihat kelebihan ataupun kekurangan bangsa ini. Yang menjadi pertanyaan untuk aku, kau dan anda semua adalah dengan sisi mana Anda lihat masalah negara ini. Bagian mana yang akan Anda pilih untuk alasan Anda kenapa Anda disini. Jika Anda memilih hanya melihat kekurangan bangsa ini maka selamat datang di negara besar yang sakit. Jika Anda melihat kelebihan bangsa ini, maka selamat datang di calon negara maju. Jika Anda memilih untuk tidak memilih juga tak apa, tapi selamat datang dalam kehidupan yang biasa-biasa saja.
Sekarang saatnya untuk benar-benar memahami kelebihan dan kekurangan bangsa ini dan memilih melihat apa yang terjadi dari sisi positifnya. Dan kemudian menyingsing lengan baju untuk bekerja bahu membahu menyelesaikan masalah yang ada satu per satu. Mulai dari diri sendiri, yang di sekitar kita dan yang mampu dilakukan sekarang. Menjalankan peran masing-masing dengan penuh syukur dan bertanggung jawab, meneruskan berita baik yang terjadi dan saling menguatkan dan terutama selalu ingat bahwa hanya dengan kepedulian kitalah, semua hal lambat laun akan bisa diperbaiki. Seperti guruku bilang, bangsa ini punya masalah manajemen, hanya dengan kekuatan hati maka hal itu bisa terselesaikan. Kekuatan yang berasal dari yakin, rajin, perduli, konsentrasi dan mengenali diri.
Semoga Allah memberi kekuatan dan keberkahan dalam setiap apa yang kita kerjakan dan kembali kepada ajaran-Nya agar bangsa ini mencapai cita-citan mulianya untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Aamiin
Posted by: oktamalandi on: October 17, 2009
Apa yang akan kau lakukan saat sahabatmu tiba-tiba menangis di telepon dari kota lain, atau dia langsung menceritakan aibnya yang tidak mungkin akan dibagi dengan yang lainnya? Bagaimana jika dia meminta jalan keluar karena dia sudah tak tahu lagi bagaimana mengatasi masalahnya sendiri ? Rasanya seperti mo pipis tapi ga jadi atau menelan biji kedondong, gemes, gatel tapi ga bisa melakukan apapun untuk mengeluarkannya.
Seperti postingku sebelumnya di sini, menjadi seorang sahabat memang tak mudah, tapi apa arti hidup jika kita tidak berbagi. Dan sahabat layaknya mentari, karena dia selalu ada dengan hangatnya (itu makanya aku selalu berdoa agar kelak istriku adalah sahabat terbaikku – curcol..!! -). Bagiku sahabat adalah harta-hartaku yg paling berharga, karena dia bukan pelangi yang walaupun indah tapi hanya muncul sesaat di langit. Dia adalah matahari, yang akan selalu kembali dalam janji yang tak terbantahkan.
Saat aku menghadapi keadaan diatas, aku semakin belajar bahwa hubungan antar manusia itu tidak pernah hitam dan putih, terlalu banyak daerah abu-abu yang perlu dipahami dengan bijak. Mungkin jika dia melakukan sesuatu yang melanggar hukum akan lebih mudah bagiku untuk melarangnya. Tetapi saat hal ini berhubungan dengan hati, nafsu, dan etika maka semuanya menjadi lebih rumit.
Dosenku sains sosial selalu berkata bahwa etika adalah berarti kesepakatan bersama, di dalamnya ada norma, aturan, dan moral. Etika yang berlaku di satu kelompok mungkin tidak akan berarti di kelompok lain. Memang ada nilai-nilai universal yang sudah melekat dengan nilai kemanusiaan kita. Dan ini yang seringkali terlupakan bahkan dipinggirkan kala nafsu sudah ikut bicara.
Satu pesan yang aku sampaikan, jika kamu tidak ingin menyerahkan persoalan yang membebanimu itu pada Sang Maha Pengatur, atau saat nafsu sudah menutup hati dan nalar. Maka tunggulah sampai roda hidup membenturkanmu pada kejadian yang membuatmu kembali berpikir tentang pilihan-pilihan yang telah dibuat. Manusia dibekali hati dan pikiran untuk digunakannya mencari kebenaran dan memanfaatkan semua yang telah dianugerahkan oleh-Nya.
Sudah cukup aku bicara tentang moral, karena aku dan kau adalah pendosa yang sedang mencari jalan menuju-Nya. Tapi sahabatku tolong renungkan ini. Jika kau tak lagi mendengar hatimu, maka siapa lagi yang akan kamu dengar? Jika kau tak berani lagi mengejar kebahagianmu, maka hidup siapa yang sedang kau jalani? Jika kau terus memendamnya, sebenarnya siapa yang kau bohongi, dia atau hatimu? Kejarlah kebahagianmu dan berusahalah untuk memberi yang terbaik bagi dirimu sendiri, karena saat kau mengejar kebahagiaan dan memberi yang terbaik untuk dirimu sendiri maka sebenarnya kau memberikan kebahagiaan untuk orang-orang yang kau sayangi.
- For my Dearest, to all memories & stories we’ve share -
Posted by: oktamalandi on: October 12, 2009
Teman-temanku pada awalnya banyak yang tak percaya bahwa aku memutuskan untuk sekolah lagi, yang lainnya malah memintaku untuk mempertimbangkan lagi keputusanku ini. Tapi saat keputusan ini diambil justru aku merasakan keriaan yang tidak biasanya. Apakah ini tandanya aku sudah berada dijalan takdir? Entahlah. Tapi jujur setelah 4 tahun lulus dari S-1 dengan nilai pas-pasan maka keinginan untuk sekolah S-2 bukanlah pilihan yang mudah diterima akal. But now here I am, ready to continue my journey.
Ada 3 alasan dan 1 kejadian kenapa aku memutuskan untuk sekolah lagi. Alasan pertama adalah aku sudah terlalu sering ditanya oleh orang-orang disekitar pekerjaanku apa hubungannya antara Teknik Lingkungan dengan bidang Sumber Daya Manusia (btw buat yg belum tahu, aku lulusan S-1 T. Lingkungan ITB). Alasan kedua menyangkut tentang incestasi. Investasi terbesar adalah selalu tentang berinvestasi pada pengetahuan. Dan daripada tabunganku tidak berbekas maka lebih baik aku memilih menginvestasikan pada diriku sendiri. Alasan terakhir adalah karena aku memang punya impian untuk sekolah sampai S-2. Bedanya memang impian ini aku wujudkan lebih cepat dari yang aku rencanakan.
Daripada memperpanjang cerita pribadi yang akan mengaburkan pesan, maka lebih baik aku berbagi tentang pelajaran apa saja yang aku dapat dari prosesku kembali ke sekolah ini. Sebelum aku memutuskan sekolah lagi, banyak sekali pertanyaan yang aku ajukan pada diriku sendiri mulai dari benarkah ini jurusan yang memang ingin aku ambil, bagaimana caranya agar aku bisa membiayainya sendiri, atau yang paling ga penting apakah ini akan menghabiskan waktu-waktu tidurku. Tapi hal pertama yang aku pelajari bahwa terlalu banyak berpikir itu seringkali menghambatku untuk bergerak. Dan karena berpikir biasanya hanya memuaskan ketakutanku maka aku stop pikiranku untuk bekerja dan aku mantapkan hati untuk memilih ini. It feels so good..!! Tiba-tiba aku menyadari satu langkah lagi untuk membuat hidupku lebih mudah, yaitu pikiran hanya berfungsi untuk menghitung segala kemungkinan tapi tetap hanya hati yang akan menentukan apakah suatu keputusan itu jadi diambil atau tidak. Hati adalah panglima sejati dari tubuh dan pikiran, dengarkanlah dia maka kau tidak akan pernah menyesali hidupmu.
Lalu tentang jurusan yang aku ambil, MSM atau magister sains manajemen adalah jurusan yang relatif muda dan adanya di SBM ITB. Berbeda dengan MBA atau MM yang lebih sering terdengar istilahnya, MSM relatif tidak dikenal karena magister ini masih sering dirancukan dengan MBA atau MM. Perbedaan utama antara MSM dan MBA adalah pendekatannya terhadap pengajaran manajemennya itu sendiri, jika MBA cenderung ke case approach dan lebih aplikatif dalam dunia bisnis, maka MSM lebih ke arah risetnya dan sains dari manajemennya sendiri. Jurusan baru di sekolah yang baru juga biasanya akreditasinya kurang meyakinkan, dan aku sempat iri dengan teman2 yang berkesempatan untuk kuliah di luar negeri karena pasti pengalaman hidup dan wawasan yg didapatnya akan jauh lebih luas. Tetapi kemudian aku menyadari bahwa kuliah di tingkat lanjut macam di S-2 itu sebenarnya adalah suatu anugerah tersendiri karena banyak orang yg bahkan untuk sekolah sampai SMA saja tidak berani bermimpi. Menurutku dijenjang S-2 sudah bukan masanya untuk mengandalkan reputasi sekolah hanya sebagai nilai jualku saat lulus kelak. Yang lebih penting adalah pemahaman keilmuan dari studi yang kita pilih dan bagaimana mengaplikasikannya ke dunia. Pelajaran yang aku ambil adalah darimanapun lo berasal, klo emang lo adalah intan maka lo akan dicari orang, tidak peduli bagaimana latar belakangmu. Semua itu butuh kerja keras dan paling utama adalah konsistensi untuk meningkatkan kualitas diri (klo kata buku outliers itu adalah aturan 10.000 jam).
Satu hal yang menurutku sangat memperkaya pengalaman kuliahku di S-2 adalah bekerjalah dahulu sebelum mengambil S-2. Setidaknya jika tidak bekerja minimal lakukan apa yang kau suka dan bereksperimenlah pada dunia sebelum masuk ke bangku sekolah lagi. Salah satu dosenku pernah bilang bahwa orang sekolah itu pada dasarnya adalah orang yg menyerahkan kebebasannya untuk berpikir kepada teori-teori dan hasil dari pemikiran orang lain. Seringkali murid lupa untuk menanyakan is it true? or why this come like this. Atau yang paling parah adalah kuliah just only for the sake of kuliah itu sendiri (status, kewajiban, etc). Yang aku amati dari teman-teman sekelasku dan yang aku rasakan sendiri adalah teman2ku yang sudah bekerja rata-rata rasionalisasi dan kualitas pertanyaannya jauh lebih dalam dengan pemahaman yg diperkaya oleh real life experience. Jadinya saat kuliah seringkali momen AHA muncul dikepalaku dan semakin bersyukurlah aku terhadap keputusan yang aku ambil. Pernah aku bercerita pada mentorku tentang kuliahku di S-2 ini dan dia hanya bilang bahwa kuliah S-2 di Indonesia memang dirancang untuk alasan praktikal dari apa yang ditemu dalam kehidupan sehari-hari, bedanya dengan S-1 adalah jika S-1 fokusnya adalah gaining knowledge, jadi urusan aplikasi memang prioritas kedua. Jadinya wajar sekali jika banyak lulusan S-1 yang merasa ilmunya yang kepake di dunia kerja cuma sedikit sekali. Bukan hanya karena mungkin ilmunya kurang membumi, tetapi mungkin karena konsep mengumpulkan pengetahuan itu yang ditonjolkan. Akhirnya saranku ke teman-teman yang bertanya tentang sekolah lagi padaku selalu aku imbuhkan untuk menyuruhnya bekerja dulu setelah lulus sebelum mengambil sekolah lagi. Ditambah lagi, jika kita sempat berpisah dengan dunia kampus sebelum memasukinya lagi maka kita akan memiliki motivasi lebih untuk menyelesaikan sekolah yang baru ini lebih baik dibandingkan sekolah sebelumnya. Karena seperti aku, kebanyakan orang lebih banyak belajar dari pengalaman gagalnya di masa lalu. Jadi boleh dikatakan kuliahku sekarang adalah gabungan antara hasrat, jodoh dan balas dendam dari S-1 yang amburadul.
Satu hal yang pasti yang aku pelajari tentang keputusanku sekolah lagi ini, yaitu tentang konsep jodoh. Aku selalu percaya kalo jodoh maka semuanya akan serba dimudahkan, dan alhamdulillah itu yang aku alami. Pertama tentang biaya kuliah, alhamdulillah aku dapat beasiswa yang meringankan. Trus karena ada student exchange di kelasku maka akhirnya semua kuliah delivered full in english and guess what, we have same class with Ph.D student too, it make our session full with viable discussion. Teman-teman yg range usia dan pengalaman kerjanya sangat beragam juga membuat kelasku semakin ramai diskusinya. Terakhir tentang dosen dan metode pengajarannya, dengan kebijakan pintu terbuka dari dosen dan kebebasan untuk berdiskusi bahkan tentang apapun yg berkaitan dengan manajemen membuat banyak pertanyaanku tentang manajemen terjawab. Kesimpulannya semua yang aku bayangkan tentang suasana belajar di S-2 terwujud dikelasku yang sekarang. Walau agak keteteran karena tugas dan course material in english tapi aku sangat menikmati setiap detikku berada dikelas S-2 ini.
Banyak pelajaran hidup yang aku dapat dari mulai tentang keberanian, kejujuran, antusiasme, disiplin, dan keikhlasan semua aku pelajari dalam waktu 4 bulan ini. Aku yakin masih banyak pelajaran hidup yang aku hadapi. Mungkin tulisan berikutnya aku akan coba bedah beda antara MSM dan MBA terutama yang ada di ITB. Semoga apa yang kutulis bermanfaat dan menjawab pertanyaan kenapa Andik sekolah lagi.
Posted by: oktamalandi on: October 7, 2009
Beberapa hari ini aku mendapat privilege untuk menghabiskan beberapa buku yang menumpuk tak sempat terjamah. Bagiku membaca itu seperti guilty pleasure karena saat membaca itu seringkali aku sampai lupa waktu dan melakukan hal-hal yang seharusnya menjadi tanggung jawabku. Tetapi dengan komitmen yang aku ambil sekarang maka justru membaca menjadi aktifitas utamaku.
Mulai dari 10 hari yang lalu saat aku berbelanja buku di Palasari, Outliers, First break all the rules, Arok dedes, Jalan raya pos, dan buku pinjaman Back ‘euro’ packers membuat hari-hariku penuh dengan kegiatan satu ini. Bukan hanya menghabiskan buku-buku itu saja, tetapi kuliahku di sejarah pemikiran manajemen dan sains sosial membuat aktifitas membaca menjadi semakin dominan dalam agendaku 10 hari terakhir.
Bukan isi dari buku-buku itu yang ingin aku ceritakan disini, tetapi tentang aktifitas membaca itu sendiri. Sepanjang yang aku ingat, sejak kelas dua SD aku sudah sangat gemar membaca. Bahkan sejak kelas 2 itu aku sudah mulai membacai buku-buku diperpus sekolah, mulai dari Ramayana sampai Petualangan Winettoou yang sangat menginspirasi. Maka dapat dipastikan setiap istirahat dan sepulang sekolah aku ada di perpus itu dan kadang disambung dengan ke perpustakaan masjid raya di desaku untuk meneruskan membaca sampai sore. Tak jarang aku harus dijemput pulang oleh nenek karena khawatir cucunya belum terlihat dirumah sejak sore.
Hadiah terindah yang sampai sekarang aku ingat dari kedua orang tuaku adalah kumpulan ensklopedia widyapustaka pertama bagi anak2 dan khasanah pengetahuan pertama. semua ensklopedia itu membawaku menyeberangi semua ranah pengetahuan yang dan membuatku selalu terkagum-kagum tentang semua gambar dan fenomena alam yang tertulis di situ. Dan sejak itu buku selalu menjadi rekreasiku yang paling utama.
Seiring dengan semakin
Posted by: oktamalandi on: July 14, 2009
A dream is a seed of possibility planted in the soul of human being, which calls him to pursue an unique path to realization of his purpose.
Quote diatas langsung menangkap perhatianku saat membaca resensi buku terbaru John C. Maxwell di SWA. Kata-kata yang sangat pas dengan apa yg ingin aku tuliskan tentang kejadianakhir-akhir ini diantara aku dan teman-temanku. Dalam waktu singkat dua sahabat terbaikku pergi ke tempat yang jauh untuk meraih cita-citanya. Satu orang kembali pulang ke kampung halamannya untuk berkarya disana, dan satu lagi pergi lebih jauh lagi untuk mencari penghidupan yang lebih baik di negeri orang. Dua orang luar biasa yang penuh dengan inspirasi, ketulusan, cinta dan semangat. Dua orang matahari yang pernah mewarnai hari-hariku.
Kejadian ini menyadarkanku betapa beruntungnya mereka yang memiliki impian. Dan dua orang sahabat ku adalah orang-orang yang sedang menjalani takdir dalam mewujudkan impiannya. Kejadian ini juga menyadarkanku tentang perjalananku sendiri. Perjalanan yang entah ujungnya akan ada dimana, tetapi sampai sejauh ini sangat menyenangkan dan aku nikmati tiap detiknya. Dan sejauh ini, pelajaran dari perjalanan yang telah aku lalui, ada dua hal yang membedakan apakah suatu impian itu akan mewujud atau tidak, yaitu adanya proses memilih impian itu dan mewujudkannya dengan segala konsekuensinya.
Tidak ada hal yang berharga yang diraih dengan mudah, begitu juga dengan impian. Pasti ada harga yang harus dibayar untuk mewujudkannya. Dan hal yang akan meringankan dan bahkan mendukung perjalanan meraih impian itu lebih ringan adalah adanya teman-teman yang mendukung dan sikap yang benar dalam menghadapi segala yang menghadang. Ada seorang teman yang bahkan menganggap bahwa dirinya setiap hari selalu berkubang dalam ‘lumpur’, tetapi karena dia selalu ingat apa mimpi dia dan perasaan bahwa akan selalu ada teman-temannya yang siap menerima nya saat dia sudah terlalu letih, maka dia tetap bertahan di tempat kerjanya sekarang. Perjalanan meraih impian hampir tidak ada yang mudah kawan, karena itu betapa beruntungnya jika kita memiliki teman-teman yang selalu mendukung dan menerima . Disaat itu, maka teman selayaknya harta paling berharga yang dianugerahkan Tuhan pada kita.
Aku juga semakin percaya bahwa setiap orang itu punya impian, hanya saja banyak yang tidak mempercayai hal itu bisa terwujud. Cara termudah untuk tahu apa mimpi kita sebenarnya adalah mendengarkan dengan sungguh-sungguh suara hati kita dan membuang segala keraguan. Sahabatku yang memutuskan pulang kekampung halamannya dan membangun tanah yang membesarkannya itu contoh dari hal itu. Saat hatinya berkata bahwa pilihan terbaik bagi hidupnya adalah pulang dan membangun kampung halamannya, maka tanpa satu keraguanpun dia memutuskan untuk mengambilnya dengan segala resikonya. Padahal banyak sekali tawaran yang secara logika jauh lebih baik daripada keputusan pulang itu. Dengan gelar MT-nya, kepintarannya, dan jaringannya selama dia di Bandung sungguh suatu yang membuat iri jika pada akhirnya dia membuang semua kesempatan dan memutuskan mengikuti apa yang dikatakan hatinya. Rasa iri terhadap kualitas seorang manursia yang sangat percaya dan berani untuk mewujudkan impiannya. Kualitas para orang-orang besar dan pengubah wajah dunia dan peradaban.
Pada akhirnya semuanya kembali pada diri masing-masing bagaimana cara kita memaknai setiap perjalanan, pertemuan, kejadian yang ada dalam hidup kita, karena akhirnya hanya kita yang bisa memutuskan apakah impian kita akan hidup dan menginspirasi orang lain untuk meraih impiannya atau sekedar terkubur mati diantara tumpukan harapan-harapan kosong. Aku sudah memilih menghidupkan impianku dan bersama kalian kawan, aku yakin jalan ini tidak akan berat untuk dilalui.
- Inspirasi dari Seto, Ilham, Kaka dan teman2ku semua, TERIMA KASIH, kalian adalah hadiah terindah yang Tuhan berikan untukku. Ayo kita saling dukung kawan, karena kuyakin jalan kita akan lebih ringan jika ada banyak tangan yang mendukung -
Posted by: oktamalandi on: April 6, 2009
Tiga kata itu yang aku dapatkan dari guru baruku, tiga kata yang dari pengalaman hidupnya akan membawa seseorang menuju ke kebahagiaan sejatinya. Disini aku akan merangkum berdasarkan apa yang aku pahami dari tiga kata yang guruku katakan itu.
No Resistant – The power of NOW :
Inti dari pernyataan ini adalah manusia hidup SAAT INI, jadi jangan menyesali apa yang sudah lewat dan jangan juga berharap dari apa yang belum terjadi. Apa yang bisa diubah hanyalah apa yang ada dihadapan kita saat ini. Seringkali ilusi masa lalu dan masa depan menahan seseorang untuk mengeluarkan apa yang terbaik dari dalam dirinya. Untuk hidup seperti itu memang membutuhkan keberanian dan dua hal berikutnya, yaitu :
No Judging :
Tidak menilai atau menganggap sesuatu itu dari apa yang tampak luarnya tanpa memahaminya terlebih dulu. Jika pernyataan pertama saja sudah memusingkanmu, maka bersiaplah untuk lebih pusing di pernyatan kedua ini. Karena apa yang sering manusia (baca : AKU) lakukan adalah selalu berasumsi dan mengambil kesimpulan berdasarkan paradigma kita sendiri. Jika manusia (lagi-lagi baca : AKU) cukup sabar dan terbuka untuk menerima perbedaan maka hidup akan damai dan tidak berat karena tidak terbebani dengan penilaian yang kadang salah kadang benar. Lalu apakah itu akan menumpulkan impresi pertama atau cinta pada pandangan pertama ? Menurutku sih tidak, karena manusia sudah sempurna dibekali dengan segala hal mendorongnya untuk bisa mengambil keputusan dalam sekejap mata. Yang tidak boleh dilakukan adalah mempercayai sepenuh apa yang tampak sekilas itu tanpa mengujinya atau mencari tahu lebih dalam. Jika ternyata dengan tidak menilai itu akhirnya kita menyesali keputusan yang telah dibuat, maka dibutuhkan dua kata sebelum dan sesudahnya, yaitu no resistant dan :
No Attachment :
Tidak memiliki keterikatan terhadap kefanaan mungkin adalah tingkatan tertinggi dari pemahaman spiritual dari setiap Agama atau ilmu self awareness. Dan memang biasanya seseorang menyesal, marah, cemburu atau memiliki emosi-emosi negatif itu karena dirinya masih belum sepenuhnya lepas dari apa yang menurut kita berharga. Saat bisa membuat diri sendiri lepas (atau setidaknya tidak terikat begitu kuat) dari hal itu maka alangkah mudah dan bahagianya hidup
Menurut guruku, tiga hal itu adalah long life education dan hanya kita sendiri yang bisa menilai sampai di tingkat mana 3 hal itu sudah kita jalani. Semakin tinggi tingkat pemahaman dan pelaksanaan 3 hal dalam hidup kita itu, maka semakin tenang, semakin berdaya dan menarik hidup yang kita jalani. Itu menurut guruku, dia mencontohkan pencapaian terbesar dalam hidup dia bukan teori pengambilan keputusan yg dia ciptakan, atau karirnya yang selama 30 tahun mengajar di salah satu institusi manajemen terbaik negeri ini, tetapi adalah bagaimana dia bisa menjalani hari-hari dalam hidupnya dengan mata yang berbinar-binar dan betapa menariknya hdiup yang telah dia jalani.
Posted by: oktamalandi on: March 27, 2009
‘ Manusia adalah ibarat buku yang terbuka, saat memandang didalamnya, maka akan ada pembelajaran, kejutan dan memory yang tertuliskan ‘
Itu kalimat sederhana dari sebuah buku yang mengajarkan tentang Appreciative Inquiry (AI). AI sendiri adalah pendekatan yang cukup baru tentang bagaimana melakukan perubahan sosial yang berbeda dengan rekonstruksi sosial lainnya. Jika selama ini pendekatan untuk mengatasi permasalahan di masyarakat adalah dengan mengatasi masalah yang timbul itu, maka di AI untuk mengatasi masalah bukanlah dengan membedah masalah itu dan berusaha memperbaiki masalah itu sendiri, tetapi lebih dengan belajar dari apa yang sudah berhasil dan bekerja dengan baik yang kemudian dari apa yang diperoleh dari hal-hal baik itu dimimpikan apa yang akan terjadi di masa depan dengan hal-hal baik tersebut. Dengan menentukan tindakan apa yang perlu dilakukan membuat hal itu dapat diwujudkan, maka impian sebesar apapun lambat laun akan terwujud.
Dari pemahaman yang demikian pada akhirnya aku menarik suatu kesimpulan bahwa alangkah indahnya jika dalam suatu komunitas atau masyarakat setiap individunya bisa saling belajar dan kemudian menciptakan pemahaman dan inovasi baru yang merupakan akumulasi dari hal-hal baik yang berasal dari pengalaman dan impian dari setiap individu. Hal itu yang kemudian aku sadari bahwa itulah awal dari terbentuknya masyarakat terbuka versi Haegel. *
* Jika mungkin tulisan diatas terlalu berat maka kesimpulannya adalah teruslah berbagi terhadap apapun yang terjadi dalam keseharian teman-teman, tetapi berbagi hal-hal yang baik, menyenangkan dan saling menginspirasi, karena dari cerita-cerita itu kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi kemudian.
Komentar