Posted by: oktamalandi on: December 23, 2008
Posting ini masih berkaitan dengan posting sebelumnya yang ini dan yang itu. Disana aku bercerita tentang keadaanku yang sedang overload kapasitas otak dan sedang dalam proses defragmantasi dan pembersihan. Salah satu tindakan yang menurutku bisa membantu proses itu adalah dengan puasa membaca.
Jadi selama 1 bulan ini aku akan berhenti untuk membaca buku-buku selain untuk kepentingan referensi kerjaan dan stop terhadap email-dan blog menarik. Sebab setelah aku amati, ternyata hal ini yang membuatku merasa seperti sekarang. Dari sistem kesetimbangan masa hal itu juga ada benarnya, karena jika informasi itu dianggap sebagai masukan, maka proses dalam otakku tidak seimbang antara masukan dan keluaran. Info yang masuk sangat banyak tapi aksinya sedikit sekali. Dengan adanya ketidakseimbangan wajar sekali jika otak ini terasa penuh. Jadi sekarang proses unlearninglah yang harus aku jalani. Karena jika tidak maka bisa jadi otak ini akan overload dan kemudian membakar informasi yang sudah masuk sebelumnya. Sayang sekali jika hal itu sampai terjadi.
Untuk mencegah hal itu terjadi lagi, setelah ini aku akan menempatkan proses membaca itu sebagai proses pencarian referensi dan sebagai aksi dari pencarian sintesis dari suatu hal yang sedang terjadi. Doakan hal ini mudah dilalui, karena bagiku membaca adalah guilty pleasure. . For better Andik, then I will do it.
- Jadi teringang kata-kata seseorang tentang stuck. makasih, mungkin ini salah satu sebabnya, -
Posted by: oktamalandi on: December 23, 2008
Dibelakang pria hebat pasti ada wanita besar sebagai pendukungnya…
Entah sejak kapan aku pernah mendengar kutipan diatas, tapi yang pasti semakin aku dewasa, semakin mengertilah bahwa pernyataan ini benar. Pentingnya peran seorang puan bahkan membuat satu tanggal yang khusus untuk didedikasikan pada ibu-ibu di Indonesia. Namanya hari Ibu, yang diperingati setiap tanggal 22 Desember 2008.
Kemarin bersamaan dengan hari Ibu, my beloved mom had her 51st birthday. She’s quite old enough today, even every day I watch her, she looks getting older faster then actually she is. I love u mom, I hope best wishes happen to u, His blessing surround u and joy and happiness occur all days u’ve been through. I always love and proud of u mom…:D
Seorang ibu adalah harta terbesar dari seorang anaknya, pujaan hati sepanjang hidupnya, dan keramat untuk kehidupan. Kasih sayangnya tidak pernah berbatas, seperti matahari yang memberi tanpa ada berharap mendapat kembali. Seperti matahari pula kasihnya untuk anak-anaknya adalah suatu keniscayaan yang hadir dari setiap sentuhan dan tindakannya.
Tetapi di hari yang sama aku berada di pulau Batam, membantu dua training sekaligus. Aku sangat menikmati pekerjaanku ini, karena selalu ada kejutan berbeda dari setiap kota yang dikunjungi. Kejutan pulau Batam kali ini untukku adalah bertemu dengan seorang perempuan luar biasa yang merupakan istri dari orang nomor satu di propinsi ini. Seorang puan hebat dengan segala pencapaiannya, sangat cerdas, bersemangat dan di umurnya yang lebih dari 60 tahun masih punya banyak impian, visi yang masih dikejar. Satu hal yang paling aku kagumi adalah semangatnya untuk terus belajar dan berbagi. Dua hal itu terus memancar dari pribadinya yang memang luar biasa itu.
Perempuan-perempuan seperti itulah yang selalu membuatku kagum dan tertarik, perempuan yang dengan semangatnya mewujudkan semua impiannya, dengan kasihnya memeluk semua yang ada disekitarnya untuk membuatnya terus bertumbuh, dan dengan kesabarannya membimbing anak-anaknya menjadi manusia berguna untuk lingkungan, bangsa dan agamanya. Menjadi penyejuk dan api bagi suaminya. Hehehe aku menjadi semangat untuk mencari belahan jiwaku itu, seorang perempuan dengan segala kelemahan dan kekuatannya menjadi pelengkap dan pendorongku. Pesan ibu gubernur malam itu padaku adalah carilah pendampingmu dengan bersungguh-sungguh. Kata-kata pendek yang keluar dari kebijaksanaan perjalanan hidup setelah sekian lama. Mungkin kata-katanya biasa terdengar, tetapi satu hal yang berbeda adalah adanya aura yang tidak bisa dijelaskan yang menguatkan pesan itu langsung masuk ke kesadaran diri. Pesan seperti inilah yang dinamakan hikmah dan akan menjadi penjuru pengarah keputusan dalam kehidupan. Terimakasih ibu.
Dalam perjalananku aku selalu dikelilingi wanita-wanita hebat yang membuatku selalu menaruh hormat dan sayang kepada mereka. Perempuan yang dengan pencapaian, kasih, dan kesabarannya selalu menginspirasiku. Entah kapan salah satu dari mereka akan menjadi ibu dari anak-anakku, mungkin Allah masih menyimpankan salah satu bidadarinya untukku. Itu yang aku percaya…:D
NB : Jika ada yang bertanya kriteria macam apa perempuan itu, japri (oktamalandi@gmail.com) aja y, siapa tahu kita bisa hang out bareng….:D
Posted by: oktamalandi on: December 22, 2008

Obrolan semalam dengan salah satu kawan perjalanan memaknai hidup membawaku ke suatu pemahaman baru tentang suatu proses pembelajaran. Beberapa waktu yang lalu aku menulis tentang betapa penuhnya kepala ini dengan infomasi dan ilmu di mind basket. Setelah menulis post itu aku memutuskan untuk berhenti sebentar dari hobiku membaca dan percayalah itu sesuatu yang berat untukku. Aku bisa membaca entry blog berjam-jam, membaca koran sampai tuntas dan membaca buku setebal 400 halaman tanpa putus. Nafsuku menggila saat menemui buku yang menarik. Tapi kemarin aku sempat merasa bahwa semua yang kupelajari tidak tampak bekasnya di kehidupan sehari-hari. Aku merasa bahwa aku sudah tahu banyak tapi entah mengapa knowing something isn’t compare to doing that.
Dalam obrolan dengan kawanku itu, feedback yang paling mengenai bahwa aku membaca hanya untuk mengumpulkan informasi, membaca hanya untuk kepuasan membaca. Tidak pernah membawa apa yang aku dapat dari buku sebagai refensi, membaca hanya untuk mengumpulkan info. It’s like compailing many things that you get freely and might be useful someday but in mean time you don’t realize that your memory more vacant. Pada akhirnya seolah aku merasa terapung diantara gelembung informasi tanpa sadar bahwa aku belum bergerak.
Kawanku itu mengingatkanku bahwa hidup yang sepenuhnya adalah hidup yang berbuat. Tidak sekedar menjalani hidup dari leher sampai kepala (berpikir), tetapi menjalani hidup dalam perbuatan. Apa yang menghambatku karena aku tidak benar-benar menjalani hidupku sendiri, tidak benar-benar menjadi aktor dari film kehidupanku sendiri. Itu yang dikatakan kawanku.
Menjadi aktor artinya adalah menjalani kehidupan sebagai pelaku, bukan sekedar pengamat. Apa yang menghambatku untuk menjadi aktor? Karena dulu aku memilih untuk menjadi pelatih, menjadi pembimbing dari orang-orang lain untuk mencapai impian. Tapi satu hal yang dilupakan adalah manusia cenderung melihat apa yang sudah diperbuat (mungkin itu sebabnya kenapa filsof pilihannya hanya dua, gila atau inspirator. Menjalani hidup dengan sepenuh-penuhnya.
Cita-citaku pada akhirnya adalah menjadi seorang fasilitator kehidupan. Apa yang membedakan guru. trainer dan fasilitator? Guru adalah seseorang yang dicontoh, dan diikuti perkataan dan perbuatannya, sedangkan trainer adalah seseorang yang menguasai suatu keahlian dan mengajarkan orang lain untuk menguasai keahlian itu. Sangat berbeda dengan peran fasilitator. fasilitator adalah seseorang yang membuka dirinya untuk orang lain dan membantu proses berkembangnya orang lain. Sungguh kebahagiaan tertinggi saat melihat seseorang mencapai potensi tertingginya, melepaskan segala ketakutan dan terbang tinggi dengan impiannya.
Pada akhirnya aku memaknai bahwa perjalanan yang aku lalui adalah perjalanan untuk memaknai arti manusia itu dengan setinggi-tingginya karena itu jalan yang harus dilalui untuk menjadi pelatih hebat. satu-satunya jalan adalah dengan berbuat sekaligus berpikir, menjadi aktor sekaligus pelatih. Jalan panjang menuju kesempurnaan pelatih.
Posted by: oktamalandi on: December 18, 2008
–Tulisan dibawah ini adalah resume dari pengajian SIaware pada tanggal 14 Desember 2008 –
Dekatilah kebenaran itu walaupun kakimu berdarah-darah dalam perjalanannya.
Surat Ar Rahmaan ayat 1-9 :
(Tuhan) Yang Maha Pemurah(1) Yang telah mengajarkan Al Qur’an(2) Dia menciptakan manusia(3)Mengajarnya pandai berbicara(4) Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan(5) Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya(6) Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)(7) Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu (8)Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca it(9)
Itu adalah potongan kalam ilahi yang dibaca sebagai permulaan dari pengajian siaware minggu 14 Desember 2008. Topik bahasan pengajian kali ini adalah meneruskan materi sebelumnya yaitu seni meraih impian dengan bahasan mengukur neraca diri. Ustadz dari pengajian kali ini adalah ustadz Hanan yang mengisi materi minggu sebelumnya juga.
Sebelumnya ustadz bertanya 2 buah gambar yg kepada kami yaitu


—gambar menyusul —
Dua gambar ini digunakan oleh ustadz untuk menunjukkan dua kondisi, yaitu seimbang (2) dan tidak seimbang (1). Lalu dari dua keadaan ini mana yang menurut teman2 lebih baik, indah atau apapun lah.
Kebanyakan memilih keadaan kedua, Cuma 2 orang dari yg hadir yg memilih kondisi 1 (tidak seimbang). Diskusi jadi menarik karena yang memilih kondisi 1 dengan alasan karena dari ketidak seimbangan itu terkesan adanya kedinamisan. Dan kedinamisan itu yang membuat semuanya berjalan. Saat pertanyaan dilanjutkan apakah yang baik itu selalu muncul dari ketidakseimbangan, maka jawabannya menjadi bercabang bahwa sebenarnya ketidakseimbangan itu dalam alam ini akan menuju keseimbangan, sehingga posisi paripurna itu adalah saat terjadi keseimbangan.
Ustadz Hanan kemudian menyampaikan materi tentang neraca diri. Neraca dalam pengertian Al Quran yg telah dibacakan adalah ukuran atau timbangan, jika diartikan lebih filosofis lagi neraca adalah sebuah keseimbangan. Allah dalam menciptakan segala sesuatunya di bumi ini selalu menciptakan neraca/keseimbangan bersamanya. Dan didalam surah Ar Rahman dijelaskan bahwa tujuan penciptaan neraca itu adalah agar kita berbuat adil, agar tidak melampaui batas dan menguranginya. Ada 3 perintah yang terkandung dalam ayat itu, dan serasa diulang-ulang. Menurut ilmu Kalam, jika suatu perintah dalam Al Qur’an ditegaskan berulang dalam satu ayat itu menunjukkan bahwa Allah menekankan pentingnya perintah itu
Neraca ini menjadi penting untuk menuju kesempurnaan, karena menurut ustadz, kesempurnaan itu adalah keseimbangan yang terabadikan. Karena itu orang yang hidupnya tidak seimbang, yaitu yang tidak memenuhi hak-haknya dan kewajibannya, maka dia tidak akan mencapai kesempurnaan manusia. Ada quote yg menarik bahwa manusia itu adalah makhluk bumi dan langit, artinya keberadaannya mencerminkan 2 unsur itu, yaitu tubuhnya yang merupakan perwakilan unsur bumi, dan ruhnya adalah milik langit (Allah). Jadi saat kita tidak memenuhi kebutuhan unsur bumi dan langit itu, maka dapat dipastikan bahwa hidupnya tidak seimbang. Bilangan waktu hidup seseorang di bumi rata-rata adalah 60 tahun, sedangkan akhirat dijanjikan akan muncul selamanya, jadi konsekuensi logisnya jika kita adil atau menjaga keseimbangan itu maka usaha kita mencari bekal akhirat haruslah lebih besar dibandingkan usaha kita mencari bekal di dunia. Karena itu mengingat kehidupan akhirat adalah kebutuhan setiap muslim untuk menjalani kehidupannya di bumi. Satu lagi seseorang tidak bisa dikatakan sempurna jika hidupnya tidak terus seimbang, karena itu kekonsistenan usaha kita untuk terus berbuat baiklah yang menentukan apakah kita sudah menjadi manusia yang sempurna atau belum.
Dalam kesempurnaan itu ada hal yang menarik bahwa kesempurnaan itu membutuhkan ketidak sempurnaan. Maksud dari pernyataan ini adalah tidak mungkin dalam kehidupan kita bisa terus sempurna (terus sehat, kaya, tidak ada masalah, tercapai semua keinginan, menang atau apapun), hal-hal yang tidak sempurna yang terjadi itu adalah mekanisme Allah untuk membuat sesuatu itu menjadi seimbang. Analogi sederhananya adalah jika manusia tidak punya kelemahan atau keburukan, maka dia bukanlah manusia lagi, karena makhluk yang sempurna hanyalah malaikat. Tujuan adanya ketidak sempurnaan itu ada 2 hal yaitu untuk membuat kita bersyukur terhadap nikmat yang diberikan dan sarana kita untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
Kesempurnaan akan selalu terjadi dalam lingkungan kebaikan dan merupakan perpaduan dari kebaikan-kebaikan. Kesempurnaan tidak mungkin terjadi saat kebaikan dan keburukan bercampur. Analogi yang disampaikan ustadz adalah susu yang dicampurkan kopi tidak mungkin tetap wujudnya adalah susu, berbeda dengan saat dicampurkan gula, wujudnya tetap susu, tetapi susu itu sekarang juga mengandung unsur gula. Jadi kesempurnaan tidak mungkin terjadi jika masih ada keburukan atau dosa masih bercampur. Karena itu saat seseorang memilih jalan kesempurnaan maka saat itu juga dia memilih untuk menjaga dirinya dari berbuat dosa. Jika seseorang terbiasa berbuat dosa kecil maka dia akan menuju ke berbuat dosa besar, dan saat dia tidak menyadari hal itu maka dia akan menuju ketidak seimbangan yang mengarahkan pada kehancuran dirinya.
Yang terakhir sebagai manusia, kita membutuhkan tuntunan untuk menjadi manusia yang sempurna yang dijanjikan surga sebagai imbalannya. Karena itu satu-satunya tuntunan yang akan mengarahkan kita ke kesempurnaan adalah tuntunan yang membuat hidup kita selalu seimbang. Dan tuntunan itu adalah syariat. Mengapa syariat? Karena pertama syariat datangnya dari Allah yang menciptakan kita dan keseimbangan itu sendiri, jadi tidak mungkin dengan menjalani syariat itu tidak membawa kita ke penciptanya. Jadi bisa dikatakan bahwa syariat itu adalah sistem yang akan menciptakan keseimbangan hidup, jika ingin hidup seimbang maka hiduplah sesuai syariat. Untuk menjalani itu memang banyak sekali godaannya, hal itu wajar karena imbalannya juga luar biasa, yaitu surga. Jadi kembali lagi pilihannya ada ditangan kita, menjadi ahli surga atau ahli neraka.
Pokok bahasan pengajian kali ini memang cukup berbobot dan membuat akumenjadi banyak berpikir terhadap hidup yang selama ini sudah aku jalani, akan berakhir dimana hidup ini jika aku terus jalani dengan cara ini nampaknya sudah mulai tampak ujungnya. Dan jujur itu membuatku takut. Karena itu sebagai manusia tidak mungkin aku akan luput dari kesalahan, tapi Allah juga sudah membimbing bagaimana cara kembali ke jalan yang benar setelah berbuat salah.
Sungguh Islam agama yang sempurna dan sesuai dengan fitrah-nya. Pada akhirnya yang bisa kupinta adalah kekuatan dari Allah untuk bisa diberi kekuatan untuk menuju kebaikan dunia dan akhirat serta dijauhkannya dari api neraka. Karena aku baru sadar bahwa selama ini aku hanya berdoa untuk selamat dunia akhirat saja dan lupa bahwa banyak hal-hal yang dilakukan akan mengarahkanku ke siksa api neraka. Selalu sesuatu yang baik itu tidak mudah untuk didapat, karena itu juga surga juga tidak semudah itu untuk diraih, karena membutuhkan penyerahan diri sepenuhnya kepada kebaikan dan tujuan Allah menciptakan diri ini ke dunia.
Posted by: oktamalandi on: December 12, 2008
Pernah ga berpikir bahwa otak itu ibaratnya adalah sebuah keranjang? Saat kita memasukkan barang-barang ke dalam keranjang, maka biasanya yang dilakukan adalah sekedar menumpuk dan memasukkan sebisa-bisanya ke dalam keranjang itu.
Jika otak diibaratkan keranjang, maka apakah keranjang itu sudah berubah menjadi sampah atau menjadi keranjang pengetahuan yang menyimpan semua kemuliaan nilai seorang manusia.
Pemahaman ini muncul begitu saja dikepalaku saat menonton teve. bayangan kekerasan, gosip, acara mengumbar syahwat dan lainnya begitu kental mewarnai acara-acara teve Indonesia sekarang. Memang masih ada acara-acara yang menyebarkan optimisme, cinta dan kebahagiaan diantara acara-acara sampah lainnya.
itu baru dari televisi, film Indonesia juga mengalami hal yang sama. Disamping ada film Laskar Pelangi yang ditonton lebih dari 3 juta penonton, jauh lebih banyak film indonesia yang mengumbar jeritan dan lekuk tubuh pemainnya. Genre semakin tidak jelas, dan pada akhirnya aku jadi bertanya apakah bangsa ini tidak belajar dari sejarahnya? Karena dulu film indonesia juga mengalami hal yang sama.
Untuk internet, aku melihat bahwa hanya media ini yang antara sisi baik dan buruknya cukup berimbang. Artinya adalah pilihan kita yang menentukan apakah media ini akan berpengaruh buruk atau tidak pada pikiran kita. Satu hal yang menarik dari media ini adalah kemungkinan seseorang tenggelam dalam data dan ilmu pengetahuan sehingga menjadi bingung apa yang harus dilakukan dengan pengetahuannya itu.
Seringkali kita tidak menyadari apa yang kita lihat, dengar, pikir atau rasakan. Seolah-olah semuanya terjadi begitu saja dan tidak dalam kontrol kita. Padahal sama dengan keranjang barang atau keranjang sampah. Otak suatu saat bisa juga penuh dan perlu dikosongkan dulu jika ingin memasukkan sesuatu yang baru. Hal ini menjadi menarik, karena akhirnya aku jadi ingat dengan salah satu temanku yang dari pertama kali aku kenal selalu klaim bahwa dia bukan orang yang cerdas, tetapi pencapaiannya tidak mencerminkan itu.
Dia meraih apapun yang kebanyakan diidamkan oleh teman-temanku di ITB, IP Bagus, kerja di perusahaan besar dengan gaji yang otomatis besar dan mungkin alakn meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Setiap kali disinggung pencapaiannya dia selalu bilang bahwa dia punya cara cerdas untuk mengakali keterbatasan kecerdasannya. Dan baru-baru saja aku menyadari maksud dia dengan cara cerdas itu. Cara cerdas itu namanya adalah prioritas dan berpikir sederhana.
Sungguh manusia-manusiai seperti dia adalah manusia yang diberkati, karena dia sudah cukup tahu tentang dirinya dan bagaimana memanfaatkan apa yang dia punya dengan sebaik-baiknya. Ambisinya dipasang setinggi langit, sambil tangan, kaki dan pikirannya digunakan sepenuhnya untuk membangun tangga menuju apa yang dia cita-citakan. Andai aku bisa semudah itu tidak memikirkan apa yang terjadi, lebih banyak bekerja daripada berpikir dan tidak terganggu dengan apa yang telah dicapai orang lain.
Jalan yang membutuhkan konsistensi dan kedisiplinan untuk menjadi seperti itu. Dan itu yang aku percaya menjadi benih dari keberhasilan. Sungguh pertempuran terbesar adalah melawan hawa nafsu sendiri.
NB : Terimakasih dek kau telah ajarkan aku untuk hal ini
Posted by: oktamalandi on: December 7, 2008
Suatu malam, diberanda belakang IIB 8 teman-temanku yang berasal dari 2 organisasi yang berbeda berkumpul untuk membicarakan kemungkinan kolaborasi mereka di suatu acara. Sungguh indah suasana yang terjadi dan dari komunikasi ini walaupun masih belum tahu apa hasil konkretnya
Silaturahmi adalah salah satu jalan memanjangkan rezeki, itu kata yang selalu temanku Sano ucapkan. Dan itu dibuktikan betul oleh teman2ku yang menjadi pengusaha-pengusaha pemula ini. Dengan segala keterbatasan, maka impian akan terwujudkan saat kita bisa menggabungkan segala sumber daya, dan sumber daya yang paling luar biasa adalah teman-teman dan otak. Sungguh bahagia bisa berada diantara teman-teman satu perjuangan.
Ada perasaan haru bahwa diantara sekian keterbatasan dan setelah perjuangan menyelesaikan kuliah di kampus gajah duduk ini, masih ada idealisme yang mereka coba pertahankan dengan segala konsekuensinya. Disaat yang sama teman2 yang lain lebih memilih untuk belajar dan mencari penghidupan dari korporasi2 dunia yang menggerogoti alam Indonesia.
Semua kembali pada pilihan pribadi, dan tidak boleh seorangpun menyalahkan atau membenarkan karena kita bukan Tuhan. Namun ada satu kalimat dari Sano yang bisa direnungkan
” Egois sekali kita saat kita memilih untuk tidak peduli terhadap keadaan bangsa ini dengan berputus asa atau tidak percaya bahwa negara ini masih bisa diperbaiki selama orang-orang didalamnya masih mau berusaha”
Terimakasih Sano, Enang dan teman-teman yang lain atas malam yang mengesankan ini, aku yakin bahwa semuanya akan menimbulkan dampak saat kita bisa berkolaborasi untuk berkontribusi pada bangsa ini. Saatnya sekarang kita bergandeng tangan untuk mencapai tujuan, bukan meributkan cara siapa yang harus dipakai.
Posted by: oktamalandi on: December 7, 2008
Hahaha akhirnya malam minggu dikamar kost sendiri nonton what happen in Vegas. Perfecto…:D
Man malam minggu, some part of my saying so what.!! But the other part saying c’mon it’s Saturday night, loose yourself little bit. Tapi begitulah hidup perlu memilih Jang ! Kemarin aku sudah habis2an bermain dengan teman-teman, pulang subuh pula. Dan dengan pekerjaan yang masih menumpuk, maka diputuskan bahwa malam minggu ini kamar adalah destinasi utama.
Di malam yang dingin ini teman2ku yang menamakan dirinya swastah HMTL sedang menggodok adek-adeknya yang akan masuk himpunan di daerah Subang sana. Awalnya berjanji dengan seorang teman untuk ikut juga, tapi kemudian bersyukur bahwa dia ternyata dia tidak jadi berangkat, maka gugurlah sebuah janji. Satu lagi alasan tambahan untuk menghabiskan malam di kamar kost. Sudah lama sekali aku tidak menghabiskan malam minggu di kamar kost, karena selalu saja ada aktifitas. Jadi disinilah aku menulis, menonton sambil menunggu mood untuk mulai menghajar tugas yang menumpuk.
Pelajarannya adalah prioritas dan kerjakan tugas secepat-cepatnya. Hal yang selalu susah sekali untuk aku lakukan. Mungkin karena dasarnya memang malas saja, tetapi memulai sesuatu selalu adalah hal yang paling berat untuk dilakukan. Aku selalu menunggu mood yang tepat untuk memulai semuanya, atau menunggu deadline yang menendang-nendang dari belakang. Malu juga kepada teman-temanku yang aku fasilitasi dalam training-training saat aku menyadari bahwa aku sedang tidak produktif.OK fasilitator hanyalah manusia biasa juga, dia lebih tahu secara teoritis, tapi belum tentu cakap dalam melakukan apa yang dia katakan. Satu hal yang pasti adalah apapun yang keluar dari mulut tamparannya terasa dua kali lipat saat aku tidak melakukannya. Bahkan Tuhanpun sudah mengingatkannya di Kitab-Nya. Jadi apalagi yang ditunggu ?
Posted by: oktamalandi on: December 5, 2008
‘ Pengusaha adalah orang yang menciptakan nilai tambah, pedagang adalah orang yang memanfaatkan faktor kali ‘
Hal itu yang beberapa kali aku dengar dari seorang teman yang penasaran berprofesi sebagai seorang entrepreneur. Kenapa aku bilang penasaran ? Karena menurut bang Kafi Kurnia profesi entrepreneur itu biasanya hanya didorong oleh dua sebab yaitu : penasaran dan kepepet. Hebatnya lagi, kepepet itu adanya cuma di Indonesia. Jika teman-teman cukup jeli mengamati keadaan sekitar, maka teman2 akan melihat pengusaha-pengusaha jalanan yang tangguh dan yang menopang bangsa ini untuk terus berputar. Mereka adalah contoh nyata dari pengusaha kelas kepepet.
Menurut bung Kafi, pengusaha yang bisa dibentuk itu adalah pengusaha penasaran, dan sebenarnya seminar-seminar wirausaha yang marak beberapa waktu lalu itu adalah tempat yang mudah untuk menemui pengusaha-pengusaha penasaran. Pengusaha kepepet biasanya tidak sempat ikut training-training lagi, sekolah kehidupanlah tempat mereka menimba ilmu sehari-hari.
Kembali ke pernyataan temanku diatas. Seringkali aku dan teman-temanku terjebak dalam operasional perusahaan. Sebagai perusahaan kecil yang tahapannya survival dan menyeimbangkan antara kebutuhan pribadi dan kebutuhan perusahaan untuk terus berkembang, satu hal yang paling sering dilupakan adalah menciptakan nilai tambah sebanyak-banyaknya untuk perusahaan. Seringkali akhirnya aku terjebak di operasional sehari-hari perusahaan.
Akhirnya memang dibutuhkan niat 100 % dan kerja sedikit lebih banyak untuk terus menapak dijalan ini. Menyeimbangkan antara delegasi, mengatur dan negosiasi adalah nafas dari bekerja sendiri. Setiap saat seorang pengusaha akan menghadapi momen untuk memutuskan, karena itu putuskan dengan cepat dan yang terbaik saat itu, kemudian jika keputusan itu salah, perbaiki secepatnya dan jangan pernah menyesali keputusan yang sudah dbuat, karena setidaknya kita akan belajar dari keputusan salah yang pernah kita perbuat. Itu pelajaran yang kusarikan dari obrolan bersama temanku itu.
Jalan entrepreneur adalah jalan gunung, jalannya terus mendaki, banyak puncak bayangan yang menggoda untuk membuat kita berhenti dan butuh kerjasama untuk meraih hasil yang tertinggi. Jadi keteguhan hati adalah suatu keharusan dan kemampuan untuk bersyukur akan membuat jalan itu menjadi indah saat telah terlalui dan menggenapkan nilai sebagai manusia.
Posted by: oktamalandi on: December 3, 2008
Satu kata ini yang terlintas dalam pikiranku saat ini, saat ada seorang teman mengeluarkan isi hatinya di hadapanku. Apalagi jika bukan masalah hati -baca hubungan dengan lawan jenis-. Setelah dia bercerita panjang lebar dengan dibumbui oleh mukanya yang sungguh memilukan aku hanya bisa berkata ‘ Boy lo lagi kena sindrom ngarep nih ‘ Nah sekarang giliran dia yang bingung.
Ngarep mungkin secara padanan kata bahasa agak sulit diartikan, tetapi pengertian secara mudahnya adalah perasaan mengharapkan sesuatu yang berlebihan sehingga kita menjadi terobsesi dengannya. Coba ingatanmu layangkan ke perjalanan hidup saat kita berumur 6 – 12 tahun, saat kita masih lucu-lucunya memakai seragam merahputih. Saat itu apakah cowok atau cewek tentu kita punya pengalaman mengharapkan sesuatu sebegitu dahsyatnya sehingga kita rela melakukan apapun untuk mendapatkannya. Jika itu sebuah mainan maka kita bisa tiap hari hanya datang ketoko yang menjual mainan itu atau bermain ke rumah teman yang punya mainan itu. Kita hafal semua spek teknis mainan itu sampai-sampai mungkin kita rela untuk menabung agar bisa membeli mainan itu. Atau mungkin kita meneror ibu atau bapak kita untuk membelikan mainan itu dengan tangisan ancaman atau apapun.
Hal itu timbul dari keadaan bahwa kita sebagai anak kecil tidak bisa mendapatkan sesuatu dengan usaha kita sendiri. Kadang walaupun kita sudah beranjak dewasa, secara tidak sadar kebiasaan ngarep itu masih biasa kita praktekkan. Mungkin bukan mainan atau robot-robotan lagi yg kita inginkan, tapi kebiasaan ngarep itu akhirnya merembet ke pola interaksi kita dengan orang lain. Ditambah dengan peer pressure di masa-masa SMP -SMA maka jika kebiasaan ngarep ini jadi semakin menguat.
Hal ini ditambah dengan ketidaktahuan cowok-cowok dalam kegiatan yang namanya hubungan pria-wanita. Disaat cowok-cowok masih sibuk bermain dengan mobil-mobilannya, cewek sudah mulai berkumpul dengan teman-temannya dan membicarakan mana lawan jenis yang paling menarik, atau tergila-gila pada boy band (girls ngaku boy band apa yg lo suka…:). Jadi dalam masalah hubungan pria-wanita, cewek biasanya matang lebih dahulu dibandingkan cowok. Memang ada beberapa cowok yang memahami pola dalam hubungan itu dan menjadi ahli, akibatnya adalah mereka jadi mudah bergaul dengan cewek, mudah mendapat pasangan dan membuat iri cowok lainnya. Celakanya mereka yang tahu pola ini tidak memberitahukan pada cowok yang lainnya, sehingga barisan cowok-cowok jomblo itu tetap ada didalam goa kejombloannya, sambil mengutuki nasib dan mengumpulkan gambar-gambar di IGLOW…:D
Jadi penyakit pertama dari cowok-cowok yang susah mendapatkan pasangan adalah NGAREP. Aku akan bahas bagaimana ngilangin penyakit ngarep ini (mungkin) di tulisan yang akan datang. Yang sekarang bisa dijadikan bahan renungan adalah bagaimana cara kalian menghilangkan keinginan memiliki sesuatu dan benar-benar berjuang untuk mendapatkan hal itu.
Posted by: oktamalandi on: November 27, 2008
‘ Cari duit itu gampang kok, segampang kamu naik kelas atau masuk SMA atau SMP dulu’
Itu kata salah satu temanku sewaktu aku dalam masa bimbang selepas kuliah. Masa-masa yang nampaknya selalu dilalui oleh orang-orang yang tidak benar-benar memplotting hidupnya dalam blue print yang mapan. Inti dari kata-kata temanku itu adalah tidak usahlah berpikir sejauh itu tentang bagaimana mencari uang itu, karena jika saatnya sudah tiba maka dengan sendirinya aku akan tahu bagaimana mencari uang. Perkataan sederhana dari seorang kawan ini kembali terngiang beberapa hari yang lalu.
Insight itu memang datangnya biasanya terlalui seperti kilatan pemahaman terhadap sesuatu yang sedang kita cari jawabannya. Dan keadaannya sama seperti itu juga saat aku mendapat insight ini. Semasa kuliah boleh dibilang aku hanya menjalani saja, aku benar-benar merasa kuliah saat aku tingkat empat. IPku saat itu melonjak hampir menyentuh cum laude saat itu. Itu efek nyata dari sehabis aku ikut siaware. TA hanya dikerjakan dalam waktu 4 bulan setelah tertunda selama 1 tahun dan akhirnya Desember 2005 aku lulus juga.
Perjalanan dilanjutkan dengan membantu trainerku dengan training-trainingnya di luar Siaware. Hampir 2 tahun aku berkutat dari satu training ke training yang lain. Perlahan aku menikmati zona nyamanku yang baru ini. Bekerja seperti ini sungguh melenakan, karena seolah aku selalu sibuk, bertemu orang baru, datang di kota baru, dan perasaan terpuaskan karena bisa membantu orang lain. Uang yang aku terima juga lebih dari cukup untuk membiayai kehidupan ala mahasiswaku.
Menjadi fasilitator profesional itu aku menyebut diriku sendiri, secara tidak sengaja aku masuk ke dunia yang dari kecil memang aku senangi, dunia pengembangan diri. Namun kemudian dunia itu menjadi zona nyamanku karena aku kemudian lupa bahwa selain aku membantu orang lain terutama adalah aku juga perlu mengembangkan diriku sendiri.
Kemudian aku dan 5 temanku yang lain mendirikan Dream Of Indonesia dengan segudang impian dan idealisme. Disinilah awal mula aku masuk ke dunia baru yang namanya dunia Entrepreneur. Perjalanan di dunia entrepreneur itu akan aku tulis di lain waktu. So stay tune
Komentar