Hari-hari ini sungguh keterlaluan naik turun emosinya, ada yg membahagiakan ada juga yg membuatku bercucuran arti mata. Aku jalani saja semuanya karena aku percaya bahwa semuanya itu datang dari sang Maha Tahu dan Maha Perencana.

Sebagai seorang fasilitator awareness hal itu tentu memperkayaku dengan apa yg namanya perasaan. Dan sungguh jika semua hal itu menyedot kebahagiaan yg seharusnya aku rasakan maka aku masih tetap punya pilihan untuk memandang apa yg terjadi dan membingkai ulang dalam perspektif yang tepat. Sebelumnya aku ingin mengucapkan SELAMAT DATANG DI DUNIA NYATA, dunia dimana apa yg dialami bisa menyedihkan atau menyenangkan, mudah dilupakan atau traumatis, kenyataan yang rasanya seperti di neraka atau memilih untuk menjadikannya sebagai surga. Semuanya adalah pilihan kita untuk menyikapinya (menciptakan surga atau neraka di dunia), jika para ahli NLP bilang ‘the map is not the teritory’. Jadi untuk menjadi seorang yg bertanggung jawab adalah memiliki kesadaran untuk memilih respon terhadap apa yang terjadi.

Hampir saja aku tak percaya untuk jatuh cinta (hehehe yg baca blog ini adakah yg punya masalah yg sama), tetapi akalku berkata bahwa cinta adalah anugerah terindah dari Allah, jadi siapa aku ini hingga menafikannya ? Kemudian aku menggeneralisir semua perempuan itu plin-plan dan tidak bisa dipercaya, tetapi lagi-lagi itu termentahkan saat aku melihat bahwa masih amat sangat banyak perempuan yg sangat bisa dipercaya dan konsisten dalam keputusannya. “ Lalu apa rasa sakit hati, marah dan kecewa yang begitu membekas aku alami ini tidak berarti apa-apa? “ begitu tanyaku pada diri sendiri, maka kujawab “ itu semua memang ada dan tidak perlu kau tutup-tutupi atau bohongi, tapi itu bukan realitas yg akan terjadi terus menerus, itu hanyalah perasaanmu yang bisa kau pilih !”. “ Baru saja kau pelajari bagaimana sebuah belief terbentuk” akhirnya kesadaranku menjawab

Menarik sekali saat aku menyadari hal ini, berarti seperti inilah sebuah belief terbentuk, tertanam dan aku percaya. (dari belakang ada suara enang “ hehmm mulai nih jadi psikolog gadungan..!!”) Memang semuanya aku sintesis dari pengalamanku yang baru 2 tahun, tapi itu yg aku percaya. Belief ibaratnya adalah sebuah meja, dia akan tetap ada selama ada kaki-kaki yang menopangnya menjadi sebuah meja. Tetapi saat kaki-kaki itu hilang maka meja itu hanyalah selembar papan yg datar. Kaki-kaki itu tercipta dari pengalaman masa lalu, mitos, pelabelan yg kita terima dari lingkungan atau hasil dari tindakan di masa lalu. Dan yang menarik kaki-kaki itu kita sendiri yang menciptakan dan mempersepsikannya. Jadi apakah belief itu akan menjadi belief yang menguatkan atau melemahkan tergantung bagaimana kita memaknai setiap kejadian yg terjadi. Dan satu kemampuan yang diasah oleh setiap orang yg sukses adalah mereka bisa memaknai setiap kejadian menjadi sesuatu yg menguatkan diri mereka.

Belief biasanya akan menjadi cara pandang orang itu menyikapi apa yang terjadi pada kehidupannya. Dan belief inilah yang akan menentukan bagaimana respon kita. Belief ada dua (seperti semua hal yg ada di dunia) yaitu empowering (menguatkan) belief dan disempowering (melemahkan) belief. Dan untuk menciptakan surga dunia maka yg perlu dipilih setiap hari hanyalah empowering belief. Sekali lagi saat kita bisa memilih belief dengan sepenuh kesadaran maka realitas hidup akan berubah, bahkan ada yg bilang law of attraction pun bekerja

Karena belief diciptakan dari masa lalu maka untuk mengubah disempowering belief menjadi empowering belief ada beberapa langkah yg dapat dilakukan

  1. Melemahkan disempowering belief itu dengan cara mempertanyakan kebenaran hal-hal yg menyokong belief itu, jika itu menyangkut pengalaman di masa lalu maka pertanyakan apakah ini selalu terjadi atau kejadian saat itu saja. Jika itu berhubungan dengan mitos, maka tanyakan apakah ada kebenaran ilmiah dari hal itu, jika itu berhubngan dengan pelabelan, maka tanyakan apakah label itu muncul memang karena kita seperti itu atau sekedar hasil dari apa yg kita lakukan. Jika itu adalah hasil dari tindakan kita maka tanyakan apa yg mungkin terjadi jika hasilnya tidak demikian.
  2. mengganti disempowering belief menjadi empowering belief dengan cara mencari bukti atau mempertanyakan lagi hal2 yg membentuk belief itu dari sisi yg berbeda.
  3. Menguatkan empowering belief yang baru dengan hal-hal yang mendukung belief itu. Jika memang tak punya pengalaman yg seperti itu maka ambil dari pengalaman orang lain. Atau jika kita hidup dalam lingkungan yang penuh mitos atau pelabelan negative maka kita masih punya pilihan untuk pindah dari lingkungan itu. Atau jika itu adalah hasil dari tindakan di masa lalu maka ikhlaskan saja dan coba lagi dengan cara baru dan persiapan yg lebih baik.
  4. Terus untuk mengembangkan diri sehingga ada kepercayaan diri yg tinggi.

Semua orang pada dasarnya memiliki pilihan untuk menjadi pemenang atau pecundang, sayangnya seringkali kesadaran itu tidak muncul dalam setiap keputusan yang diambil. Sehingga mereka memilih untuk menjadi korban dari perasaannya, pengalamannya, lingkungannya, atau orang-orang yang dia sayangi. Tidak ada satupun yang bisa merenggut kebebasan kita untuk memilih menjadi pemenang atau korban dari setiap kejadian yg kita alami. Dan itu bukan hal yg mudah untuk dilakukan tetapi saat kita bisa melakukan hal itu maka WELCOME TO NERDVANA…:D

OK ada satu kebenaran yg masih perlu aku pertanyakan juga.


Hari-hari ini sungguh keterlaluan naik turun emosinya, ada yg membahagiakan ada juga yg membuatku bercucuran arti mata. Aku jalani saja semuanya karena aku percaya bahwa semuanya itu datang dari sang Maha Tahu dan Maha Perencana.

Sebagai seorang fasilitator awareness hal itu tentu memperkayaku dengan apa yg namanya perasaan. Dan sungguh jika semua hal itu menyedot kebahagiaan yg seharusnya aku rasakan maka aku masih tetap punya pilihan untuk memandang apa yg terjadi dan membingkai ulang dalam perspektif yang tepat. Sebelumnya aku ingin mengucapkan SELAMAT DATANG DI DUNIA NYATA, dunia dimana apa yg dialami bisa menyedihkan atau menyenangkan, mudah dilupakan atau traumatis, kenyataan yang rasanya seperti di neraka atau memilih untuk menjadikannya sebagai surga. Semuanya adalah pilihan kita untuk menyikapinya (menciptakan surga atau neraka di dunia), jika para ahli NLP bilang ‘the map is not the teritory’. Jadi untuk menjadi seorang yg bertanggung jawab adalah memiliki kesadaran untuk memilih respon terhadap apa yang terjadi.

Hampir saja aku tak percaya untuk jatuh cinta (hehehe yg baca blog ini adakah yg punya masalah yg sama), tetapi akalku berkata bahwa cinta adalah anugerah terindah dari Allah, jadi siapa aku ini hingga menafikannya ? Kemudian aku menggeneralisir semua perempuan itu plin-plan dan tidak bisa dipercaya, tetapi lagi-lagi itu termentahkan saat aku melihat bahwa masih amat sangat banyak perempuan yg sangat bisa dipercaya dan konsisten dalam keputusannya. “ Lalu apa rasa sakit hati, marah dan kecewa yang begitu membekas aku alami ini tidak berarti apa-apa? “ begitu tanyaku pada diri sendiri, maka kujawab “ itu semua memang ada dan tidak perlu kau tutup-tutupi atau bohongi, tapi itu bukan realitas yg akan terjadi terus menerus, itu hanyalah perasaanmu yang bisa kau pilih !”. “ Baru saja kau pelajari bagaimana sebuah belief terbentuk” akhirnya kesadaranku menjawab

Menarik sekali saat aku menyadari hal ini, berarti seperti inilah sebuah belief terbentuk, tertanam dan aku percaya. (dari belakang ada suara enang “ hehmm mulai nih jadi psikolog gadungan..!!”) Memang semuanya aku sintesis dari pengalamanku yang baru 2 tahun, tapi itu yg aku percaya. Belief ibaratnya adalah sebuah meja, dia akan tetap ada selama ada kaki-kaki yang menopangnya menjadi sebuah meja. Tetapi saat kaki-kaki itu hilang maka meja itu hanyalah selembar papan yg datar. Kaki-kaki itu tercipta dari pengalaman masa lalu, mitos, pelabelan yg kita terima dari lingkungan atau hasil dari tindakan di masa lalu. Dan yang menarik kaki-kaki itu kita sendiri yang menciptakan dan mempersepsikannya. Jadi apakah belief itu akan menjadi belief yang menguatkan atau melemahkan tergantung bagaimana kita memaknai setiap kejadian yg terjadi. Dan satu kemampuan yang diasah oleh setiap orang yg sukses adalah mereka bisa memaknai setiap kejadian menjadi sesuatu yg menguatkan diri mereka.

Belief biasanya akan menjadi cara pandang orang itu menyikapi apa yang terjadi pada kehidupannya. Dan belief inilah yang akan menentukan bagaimana respon kita. Belief ada dua (seperti semua hal yg ada di dunia) yaitu empowering (menguatkan) belief dan disempowering (melemahkan) belief. Dan untuk menciptakan surga dunia maka yg perlu dipilih setiap hari hanyalah empowering belief. Sekali lagi saat kita bisa memilih belief dengan sepenuh kesadaran maka realitas hidup akan berubah, bahkan ada yg bilang law of attraction pun bekerja

Karena belief diciptakan dari masa lalu maka untuk mengubah disempowering belief menjadi empowering belief ada beberapa langkah yg dapat dilakukan

  1. Melemahkan disempowering belief itu dengan cara mempertanyakan kebenaran hal-hal yg menyokong belief itu, jika itu menyangkut pengalaman di masa lalu maka pertanyakan apakah ini selalu terjadi atau kejadian saat itu saja. Jika itu berhubungan dengan mitos, maka tanyakan apakah ada kebenaran ilmiah dari hal itu, jika itu berhubngan dengan pelabelan, maka tanyakan apakah label itu muncul memang karena kita seperti itu atau sekedar hasil dari apa yg kita lakukan. Jika itu adalah hasil dari tindakan kita maka tanyakan apa yg mungkin terjadi jika hasilnya tidak demikian.
  2. mengganti disempowering belief menjadi empowering belief dengan cara mencari bukti atau mempertanyakan lagi hal2 yg membentuk belief itu dari sisi yg berbeda.
  3. Menguatkan empowering belief yang baru dengan hal-hal yang mendukung belief itu. Jika memang tak punya pengalaman yg seperti itu maka ambil dari pengalaman orang lain. Atau jika kita hidup dalam lingkungan yang penuh mitos atau pelabelan negative maka kita masih punya pilihan untuk pindah dari lingkungan itu. Atau jika itu adalah hasil dari tindakan di masa lalu maka ikhlaskan saja dan coba lagi dengan cara baru dan persiapan yg lebih baik.
  4. Terus untuk mengembangkan diri sehingga ada kepercayaan diri yg tinggi.

Semua orang pada dasarnya memiliki pilihan untuk menjadi pemenang atau pecundang, sayangnya seringkali kesadaran itu tidak muncul dalam setiap keputusan yang diambil. Sehingga mereka memilih untuk menjadi korban dari perasaannya, pengalamannya, lingkungannya, atau orang-orang yang dia sayangi. Tidak ada satupun yang bisa merenggut kebebasan kita untuk memilih menjadi pemenang atau korban dari setiap kejadian yg kita alami. Dan itu bukan hal yg mudah untuk dilakukan tetapi saat kita bisa melakukan hal itu maka WELCOME TO NERDVANA…:D

OK ada satu kebenaran yg masih perlu aku pertanyakan juga.


Advertisements