Manakah yang lebih baik? Mempertahankan sebuah hubungan hanya karena kasihan & perasaan tidak enak atau membiarkan orang itu untuk menderita dengan meninggalkannya?
Pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab, apalagi jika orang terdekat kita yang mengalaminya.

Tak berani aku mengusulkan sesuatu karena aku takut itu akan menambahkan luka. Bagiku setiap orang pasti sudah tahu apa yang terbaik bagi dirinya, sehingga tugas sahabat hanyalah menjadi cermin yang baik untuknya. Cermin yang baik tak akan mengeluh saat dia dihujani keluh kesah, cermin yang baik tak akan menceritakan apa yg disampaikan kepadanya saat ada orang lain yang bercermin. Dan cermin yang baik terutama bisa membuat yang bercermin jadi lebih lega dan tidak mengutuki dirinya sendiri atas semua yang ada di orang itu.

Tetapi akhirnya pertanyaan itu terjawab, bukan oleh kata-kata ataupun sebuah penolakan, tetapi dari serangkaian peristiwa dan perenungan. Dia berkata mungkin ini bukan sebuah jawaban final, karena hanya Tuhan yang tahu tentang apa yang akan terjadi di kemudian hari. Bagi dia sekarang dia sudah cukup puas terhadap apa yang dia pahami. Bahwa orang yang dicintainya itu pergi sebagai bentuk rasa sayangnya, melecut apa yang ada dalam dirinya untuk bangkit dan menjadi yang terbaik. Menjadi yang terbaik bukan untuk orang lain tetapi untuk dirinya sendiri. Dengan pemahaman itu akhirnya dia kemudian memulai kehidupan yg baru dan menjalani pilihan jalan hidup yg telah ia tentukan dengan mengorbankan banyak hal. Diujung perjuangan itu dia berharap orang yg pernah mencambuknya itu akan ada disana dan memilih untuk menghabiskan sisa hidupnya bersama. Semoga

Advertisements