Kemarin aku masih ingin menulis tentang stadium generale tentang ibu Menteri Kesehatan yang mencatat sejarah dengan melawan Amerika. Tetapi ternyata dalam kehidupan pribadiku terjadi sesuatu yang luar biasa.

Aku menulis ini ditengah perasaanku yang tidak jelas, tidak terima, sedih sekaligus menyesal. Perasaan yang akan dialami saat kehilangan sesuatu yang paling kita sayang. Sesuatu yang didalamnya kita sudah berjuang dengan sepenuh raga dan jiwa tetapi kemudian hal itu hilang begitu saja dengan beragam kalimat penghibur. Ini adalah pelajaran yang menyakitkan dan benar-benar menguji nilai-nilai yang aku anut dan percaya. Seringkali pelajaran hidup tersamar dalam pekerjaan, kesabaran menghadapi orang-orang sulit, mengikhlaskan kehilangan atau bahkan sekedar kesulitan keuangan. Semua pasti ada ‘sesuatu’ yang perlu diiqro.

Terimakasih padamu yang mengajarkanku untuk mencintai sepenuh hati, mengerjakan pekerjaan sampai selesai, realistis menghadapi masa depan dan terutama untuk selalu percaya pada diri sendiri. Disiplin adalah suatu bibit kebesaran dan menjalani hidup setiap hari dengan sepenuh-penuhnya adalah suatu yang perlu dijalani sebelum bermimpi untuk mengubah dunia. Terimakasih untuk semua, aku berdoa kita di pertemukan lagi di perlintasan hidup masa depan. Karena Allah pasti memiliki maksud tertentu mengapa kita dipertemukan. Terima kasih untuk semuanya.

Advertisements