Yang aku pahami dari tujuan seorang manusia ada di bumi adalah tumbuh terus mengeluarkan potensinya dan pada akhirnya adalah berkontribusi kepada kemanusiaan. Karena itu, untuk tumbuh setiap manusia perlu belajar dan apapun yang terjadi dalam hidup kita sebenarnya adalah sekedar feedback dari tindakan kita.

Di fisika aku pernah belajar tentang hukum aksi reaksi, di dalam agana aku belajar tentang hukum tabur tuai, maka feed back saat bisa dipahami dengan utuh maka itu adalah sebuah pembelajaran tentang hidup itu sendiri, atau bentuk nyata dari kedua hokum diatas.

Beberapa hari terakhir ada pemahaman baru tentang feed back itu sendiri. Bagi teman-temanku di Siaware tentu kata feed back sudah tidak asing lagi. Pemahamanku di Siaware, feedback adalah suatu bentuk kepedulian orang lain terhadap kita. Itu bentuk cinta yang diungkapkan.Walaupun demikian, ternyata teori jauh panggang daripada api, walaupun aku sangat memahami hal itu aku masih sulit untuk mengungkapkan feedback pada orang-orang terdekat. Bukan karena tak peduli, tetapi justru aku terlalu sayang padanya, aku takut melukai hatinya. Disinilah hati yg harus berbicara, suara hati tidak pernah berbohong, karena itu perasaan tidak pernah salah. Benar mungkin aku tidak menyakiti dirinya saat itu, tetapi jika itu memang hal yg sangat krusial maka hal itu lambat laun akan merusaknya. Dan saat itu tiba maka hanya penyesalan yang tersisa.

Menerima feed back ternyata juga bukan hal yg mudah. Ada ego yang mesti direndahkan, hati untuk menerima dan akal untuk mencernanya menjadi suatu inspirasi untuk perubahan. Hal baru lagi tentang feed back adalah apa yang terjadi dalam hidupku maka itu adalah feed back dari apa yg aku lakukan dan mencerminkan kualitas dari pertanyaan dan keputusan yang aku ambil. Jadi jika masih ada ketidak puasan dalam hidup, kesalahan yang di perbuat, ataupun hati yang terlukai maka itu adalah feed back juga untuk meningkatkan diri atau cara bertindak. Feed back yang baik datangnya dari hati dan memang seringkali sakit saat diterima, tetapi seringkali obat termanjur justru yang terpahit khan ? Hati-hati juga untuk orang2 yg punya tendensi kepala batu ( ini upaya menasehati diri sendiri..:) pertempuran untuk menerima feed back sesuatu yang berat. Satu trick kecil yang biasanya berhasil aku lakukan untuk bisa menerima feedback yang terasa menyakitkan adalah merefleksikan kembali apa yang terjadi dalam hidupku, biasanya akan terlihat hal apa yg membenarkan feed back itu sehingga bisa diterima. Tetapi tentu saja feed back adalah sesuatu yang perlu dipertimbangkan oleh akal. Karena hati-hati saat akal tidak digunakan untuk mencernanya dan kita terlanjur mempercayainya maka feed back itu akan menjadi pelabelan dan menjadi suatu belief untuk kita (aku pernah membuat tulisan tentang belief, disini). Dan belief yang terbentuk dari hal itu biasanya adalah disempowering belief

Memberi dan menerima feed back adalah pekerjaan hati, dan aku baru menyadari bahwa hati itu benar-benar cerminan dari sifat suci Ilahi (di agamaku ada hadist yg mengatakan bahwa besarnya alam raya atau tidak akan mampu menampung keagungan Allah, hanya hati hamba-hambanya yang sabarlah maqom Allah di dunia). Itu mudah untuk dibuktikan, saat kita melakukan hal yg salah maka hati juga tidak akan tenang dan ada desiran halus yang seperti mengingatkan saat itu dilakukan. Maka beruntunglah orang-orang yang terus menjaga hatinya dari kebohongan, iri dengki atau kejahatan. Aku yakin dia akan menjadi orang yang paling beruntung di dunia dan akhirat karena terjaga dari dosa dan mampu menerima dan memberi feed back. Bisa menerima dan memberi feedback itu berarti kita bisa terus menjadi manusia pembelajar dan meraih puncak tertinggi potensi kita.

Terakhir sungguh beruntung saat masih ada yg memberi feedback jujur pada kita, karena itu tandanya masih ada orang yang sayang dan peduli pada kita. Orang-orang yang tidak rela jika kita tidak maksimal, yang menjaga kita untuk tetap di jalan yang kita yakini benar dan dipilih. Walaupun saat itu mungkin badan dan jiwa sudah hampir terkapar menerima cobaan atau kegagalan bertubi-tubi. Feed back yang jujur adalah anugerah, adalah cinta, adalah pelajaran. Sebab sepahit-pahitnya kejujuran dalam feedback untuk jangka panjang itu akan terasa manis, dan saat itu tiba hanya terimakasih yang akan terucap pada orang yang memberikannya

( Terima kasih De untuk pelajaran ini, feedback aku y, saat kau merasa aku sudah tidak dijalurku lagi. Konsisten dan ACTION adalah bibit kebesaran, dan feedbackmu telah membangunkanku untuk percaya itu dan menerima tanggung jawab hidupku. Sekali lagi terimakasih. )

Advertisements