Hari-hari ini koran-koran dan semua media massa di negeri ini sangat ramai dengan rencana pemerintah untuk menaikkan BBM. Ada yg setuju, ada yg tidak ada juga yang hanya melihat terpana tidak tahu berbuat apa. Alasan yg diajukan pemerintah secara sepintas memang nampak masuk akal, karena kenaikan harga minyak bumi dunia menekan anggaran pemerintah untuk mensubsidi BBM yang dipakai rakyat. TetapiΒ  pendapat dari para seniorku disekolahku dulu dan sudah sangat lama bekerja di perusahaan minyak di negeri ini, menyatakan bahwa alasan yang diajukan pemerintah itu sangat menipu.

Menurut beliau, subsidi itu sebenarnya adalah hitungan di atas kertas dan bukan uang sesungguhnya yang keluar dari kantong pemerintah. Subsidi itu adalah uang yang keluar dari pemerintah yang didapat dari pemasukan migas, dan karena harga minyak yang naik maka sebenarnya uang pemerintah dari pemasukan migas ini naik pula, dan saat dikurangi dengan subsidi yang dikeluarkanpun sebenarnya masih surplus. Hal itu karena produksi minyak negara ini lebih banyak sedikit dibandingkan yang terpakai untuk menjalankan kegiatan negara ini.

Satu hal lagi yang membuat keputusan itu tidak bisa diterima oleh akal sehat adalah keputusan itu cacat secara moral. Bahkan mungkin hanya di negara ini, ada pemerintah daerah yang menolak keputusan pemerintah pusat atas keputusan yang dibuatnya.Β  Cacat moral dari keputusan itu adalah bagaimana keadaan masyarakat sekarang yg masih belum pulih sepenuhnya dari kenaikan BBM sebelumnya, sekarang mereka diminta untuk siap menanggung kenaikan berikutnya. Itu sama saja dengan memaksa mereka untuk bunuh diri pelan-pelan. Usaha untuk meredam dampak kenaikan harga-harga dengan memberi Bantuan Langsung Tunai juga banyak dikecam karena itu bukan solusi dan cenderung menimbulkan keresahan dan kekacauaan dalam pelaksanaannya

Cacat moral yang kedua adalah alasan pemerintah bahwa subsidi BBM selama ini sudah salah sasaran karena 40 % nya dinikmati 10 % golongan keluarga kaya di Indonesia, dan untuk itu maka harganya perlu dinaikkan. Sekarang pertanyaannya apakah rakyat negeri ini hanya 10 % keluarga kaya itu ? Terus mau dikenamakan yg 90 % itu ?. BBM itu sesuatu yang krusial dan tidak bisa diputuskan dengan sekedar melihat suatu masalah secara parsial. Keputusan itu ibaratnya membunuh nyamuk dengan meriam, ada juga tembok rumahnya yang akan jebol dan ujung2nya masyarakat kecil yang akan tertimpa tembok itu.

Sedih saat aku hanya bisa melihat kenyataan itu sedangkan aku tidak punya cukup daya untuk menghentikan dan membantu keadaan ini. Yang bisa aku lakukan adalah menjalankan peran yang aku pilih dengan sebaik2nya dan berusaha tidak menjadikan diri sebagai bagian dari masalah dan justru menjadi bagian dari solusi. Aku berdoa semoga suara Tuhan itu tidak menghukum bangsa ini dengan kerusuhan atau hal-hal yang pernah terjadi 10 tahun silam saat menumbangkan seorang raja berkedok presiden. Sebab nampaknya pemimpin bangsa ini benar-benar sudah tuli dan buta melihat kondisi rakyatnya.

Akan selalu ada peluang dari setiap krisis, pelangi setelah badai terhebat dan kerlip bintang di malam terpekat. Untuk teman2ku dan terutama diriku sendiri yang nasibnya lebih beruntung dibandingkan kebanyakan rakyat negeri ini, semoga dimanapun kita memilih untuk berkontribusi, kita bisa bekerja lebih keras, berbagi lebih banyakdan terutama diberikan keikhlasan untuk tetap rendah diri dan tidak lupa bahwa kita masih bagian dari bangsa ini yang akan terus menunggu kontribusi kita untuk mengatasi segala masalah yang ada di negeri ini. Karena saat bekerja bersama maka yakinlah ada keajaiban yang sedang dibangun, jika tidak ada yang peduli terhadap nasib negeri ini, siapa lagi yang akan mengurusnya ?

Semoga apapun yang kita lakukan dan kontribusikan itu bisa menjadi amalan yang dihitung oleh-Nya saat kita kembali nanti. AMIN

Advertisements