brainPernah ga berpikir bahwa otak itu ibaratnya adalah sebuah keranjang? Saat kita memasukkan barang-barang ke dalam keranjang, maka biasanya yang dilakukan adalah sekedar menumpuk dan memasukkan sebisa-bisanya ke dalam keranjang itu.

Jika otak diibaratkan keranjang, maka apakah keranjang itu sudah berubah menjadi sampah atau menjadi keranjang pengetahuan yang menyimpan semua kemuliaan nilai seorang manusia.

Pemahaman ini muncul begitu saja dikepalaku saat menonton teve. bayangan kekerasan, gosip, acara mengumbar syahwat dan lainnya begitu kental mewarnai acara-acara teve Indonesia sekarang. Memang masih ada acara-acara yang menyebarkan optimisme, cinta dan kebahagiaan diantara acara-acara sampah lainnya.

itu baru dari televisi, film Indonesia juga mengalami hal yang sama. Disamping ada film Laskar Pelangi yang ditonton lebih dari 3 juta penonton, jauh lebih banyak film indonesia yang mengumbar jeritan dan lekuk tubuh pemainnya. Genre semakin tidak jelas, dan pada akhirnya aku jadi bertanya apakah bangsa ini tidak belajar dari sejarahnya? Karena dulu film indonesia juga mengalami hal yang sama.

Untuk internet, aku melihat bahwa hanya media ini yang antara sisi baik dan buruknya cukup berimbang. Artinya adalah pilihan kita yang menentukan apakah media ini akan berpengaruh buruk atau tidak pada pikiran kita. Satu hal yang menarik dari media ini adalah kemungkinan seseorang tenggelam dalam data dan ilmu pengetahuan sehingga menjadi bingung apa yang harus dilakukan dengan pengetahuannya itu.

Seringkali kita tidak menyadari apa yang kita lihat, dengar, pikir atau rasakan. Seolah-olah semuanya terjadi begitu saja dan tidak dalam kontrol kita. Padahal sama dengan keranjang barang atau keranjang sampah. Otak suatu saat bisa juga penuh dan perlu dikosongkan dulu jika ingin memasukkan sesuatu yang baru. Hal ini menjadi menarik, karena akhirnya aku jadi ingat dengan salah satu temanku yang dari pertama kali aku kenal selalu klaim bahwa dia bukan orang yang cerdas, tetapi pencapaiannya tidak mencerminkan itu.

Dia meraih apapun yang kebanyakan diidamkan oleh teman-temanku di ITB, IP Bagus, kerja di perusahaan besar dengan gaji yang otomatis besar dan mungkin alakn meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi. Setiap kali disinggung pencapaiannya dia selalu bilang bahwa dia punya cara cerdas untuk mengakali keterbatasan kecerdasannya. Dan baru-baru saja aku menyadari maksud dia dengan cara cerdas itu. Cara cerdas itu namanya adalah prioritas dan berpikir sederhana.

Sungguh manusia-manusiai seperti dia adalah manusia yang diberkati, karena dia sudah cukup tahu tentang dirinya dan bagaimana memanfaatkan apa yang dia punya dengan sebaik-baiknya. Ambisinya dipasang setinggi langit, sambil tangan, kaki dan pikirannya digunakan sepenuhnya untuk membangun tangga menuju apa yang dia cita-citakan. Andai aku bisa semudah itu tidak memikirkan apa yang terjadi, lebih banyak bekerja daripada berpikir dan tidak terganggu dengan apa yang telah dicapai orang lain.

Jalan yang membutuhkan konsistensi dan kedisiplinan untuk menjadi seperti itu. Dan itu yang aku percaya menjadi benih dari keberhasilan. Sungguh pertempuran terbesar adalah melawan hawa nafsu sendiri.

NB : Terimakasih dek kau telah ajarkan aku untuk hal ini

Advertisements