–Tulisan dibawah ini adalah resume dari pengajian SIaware pada tanggal 14 Desember 2008 —

Dekatilah kebenaran itu walaupun kakimu berdarah-darah dalam perjalanannya.

Surat Ar Rahmaan ayat 1-9 :

(Tuhan) Yang Maha Pemurah(1) Yang telah mengajarkan Al Qur’an(2) Dia menciptakan manusia(3)Mengajarnya pandai berbicara(4) Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan(5) Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya(6) Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan)(7) Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu (8)Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca it(9)

Itu adalah potongan kalam ilahi yang dibaca sebagai permulaan dari pengajian siaware minggu 14 Desember 2008. Topik bahasan pengajian kali ini adalah meneruskan materi sebelumnya yaitu seni meraih impian dengan bahasan mengukur neraca diri. Ustadz dari pengajian kali ini adalah ustadz Hanan yang mengisi materi minggu sebelumnya juga.

Sebelumnya ustadz bertanya 2 buah gambar yg kepada kami yaitu

—gambar menyusul —

Dua gambar ini digunakan oleh ustadz untuk menunjukkan dua kondisi, yaitu seimbang (2) dan tidak seimbang (1). Lalu dari dua keadaan ini mana yang menurut teman2 lebih baik, indah atau apapun lah.

Kebanyakan memilih keadaan kedua, Cuma 2 orang dari yg hadir yg memilih kondisi 1 (tidak seimbang). Diskusi jadi menarik karena yang memilih kondisi 1 dengan alasan karena dari ketidak seimbangan itu terkesan adanya kedinamisan. Dan kedinamisan itu yang membuat semuanya berjalan. Saat pertanyaan dilanjutkan apakah yang baik itu selalu muncul dari ketidakseimbangan, maka jawabannya menjadi bercabang bahwa sebenarnya ketidakseimbangan itu dalam alam ini akan menuju keseimbangan, sehingga posisi paripurna itu adalah saat terjadi keseimbangan.

Ustadz Hanan kemudian menyampaikan materi tentang neraca diri. Neraca dalam pengertian Al Quran yg telah dibacakan adalah ukuran atau timbangan, jika diartikan lebih filosofis lagi neraca adalah sebuah keseimbangan. Allah dalam menciptakan segala sesuatunya di bumi ini selalu menciptakan neraca/keseimbangan bersamanya. Dan didalam surah Ar Rahman dijelaskan bahwa tujuan penciptaan neraca itu adalah agar kita berbuat adil, agar tidak melampaui batas dan menguranginya. Ada 3 perintah yang terkandung dalam ayat itu, dan serasa diulang-ulang. Menurut ilmu Kalam, jika suatu perintah dalam Al Qur’an ditegaskan berulang dalam satu ayat itu menunjukkan bahwa Allah menekankan pentingnya perintah itu

Neraca ini menjadi penting untuk menuju kesempurnaan, karena menurut ustadz, kesempurnaan itu adalah keseimbangan yang terabadikan. Karena itu orang yang hidupnya tidak seimbang, yaitu yang tidak memenuhi hak-haknya dan kewajibannya, maka dia tidak akan mencapai kesempurnaan manusia. Ada quote yg menarik bahwa manusia itu adalah makhluk bumi dan langit, artinya keberadaannya mencerminkan 2 unsur itu, yaitu tubuhnya yang merupakan perwakilan unsur bumi, dan ruhnya adalah milik langit (Allah). Jadi saat kita tidak memenuhi kebutuhan unsur bumi dan langit itu, maka dapat dipastikan bahwa hidupnya tidak seimbang. Bilangan waktu hidup seseorang di bumi rata-rata adalah 60 tahun, sedangkan akhirat dijanjikan akan muncul selamanya, jadi konsekuensi logisnya jika kita adil atau menjaga keseimbangan itu maka usaha kita mencari bekal akhirat haruslah lebih besar dibandingkan usaha kita mencari bekal di dunia. Karena itu mengingat kehidupan akhirat adalah kebutuhan setiap muslim untuk menjalani kehidupannya di bumi. Satu lagi seseorang tidak bisa dikatakan sempurna jika hidupnya tidak terus seimbang, karena itu kekonsistenan usaha kita untuk terus berbuat baiklah yang menentukan apakah kita sudah menjadi manusia yang sempurna atau belum.

Dalam kesempurnaan itu ada hal yang menarik bahwa kesempurnaan itu membutuhkan ketidak sempurnaan. Maksud dari pernyataan ini adalah tidak mungkin dalam kehidupan kita bisa terus sempurna (terus sehat, kaya, tidak ada masalah, tercapai semua keinginan, menang atau apapun), hal-hal yang tidak sempurna yang terjadi itu adalah mekanisme Allah untuk membuat sesuatu itu menjadi seimbang. Analogi sederhananya adalah jika manusia tidak punya kelemahan atau keburukan, maka dia bukanlah manusia lagi, karena makhluk yang sempurna hanyalah malaikat. Tujuan adanya ketidak sempurnaan itu ada 2 hal yaitu untuk membuat kita bersyukur terhadap nikmat yang diberikan dan sarana kita untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Kesempurnaan akan selalu terjadi dalam lingkungan kebaikan dan merupakan perpaduan dari kebaikan-kebaikan. Kesempurnaan tidak mungkin terjadi saat kebaikan dan keburukan bercampur. Analogi yang disampaikan ustadz adalah susu yang dicampurkan kopi tidak mungkin tetap wujudnya adalah susu, berbeda dengan saat dicampurkan gula, wujudnya tetap susu, tetapi susu itu sekarang juga mengandung unsur gula. Jadi kesempurnaan tidak mungkin terjadi jika masih ada keburukan atau dosa masih bercampur. Karena itu saat seseorang memilih jalan kesempurnaan maka saat itu juga dia memilih untuk menjaga dirinya dari berbuat dosa. Jika seseorang terbiasa berbuat dosa kecil maka dia akan menuju ke berbuat dosa besar, dan saat dia tidak menyadari hal itu maka dia akan menuju ketidak seimbangan yang mengarahkan pada kehancuran dirinya.

Yang terakhir sebagai manusia, kita membutuhkan tuntunan untuk menjadi manusia yang sempurna yang dijanjikan surga sebagai imbalannya. Karena itu satu-satunya tuntunan yang akan mengarahkan kita ke kesempurnaan adalah tuntunan yang membuat hidup kita selalu seimbang. Dan tuntunan itu adalah syariat. Mengapa syariat? Karena pertama syariat datangnya dari Allah yang menciptakan kita dan keseimbangan itu sendiri, jadi tidak mungkin dengan menjalani syariat itu tidak membawa kita ke penciptanya. Jadi bisa dikatakan bahwa syariat itu adalah sistem yang akan menciptakan keseimbangan hidup, jika ingin hidup seimbang maka hiduplah sesuai syariat. Untuk menjalani itu memang banyak sekali godaannya, hal itu wajar karena imbalannya juga luar biasa, yaitu surga. Jadi kembali lagi pilihannya ada ditangan kita, menjadi ahli surga atau ahli neraka.

Pokok bahasan pengajian kali ini memang cukup berbobot dan membuat akumenjadi banyak berpikir terhadap hidup yang selama ini sudah aku jalani, akan berakhir dimana hidup ini jika aku terus jalani dengan cara ini nampaknya sudah mulai tampak ujungnya. Dan jujur itu membuatku takut. Karena itu sebagai manusia tidak mungkin aku akan luput dari kesalahan, tapi Allah juga sudah membimbing bagaimana cara kembali ke jalan yang benar setelah berbuat salah.

Sungguh Islam agama yang sempurna dan sesuai dengan fitrah-nya. Pada akhirnya yang bisa kupinta adalah kekuatan dari Allah untuk bisa diberi kekuatan untuk menuju kebaikan dunia dan akhirat serta dijauhkannya dari api neraka. Karena aku baru sadar bahwa selama ini aku hanya berdoa untuk selamat dunia akhirat saja dan lupa bahwa banyak hal-hal yang dilakukan akan mengarahkanku ke siksa api neraka. Selalu sesuatu yang baik itu tidak mudah untuk didapat, karena itu juga surga juga tidak semudah itu untuk diraih, karena membutuhkan penyerahan diri sepenuhnya kepada kebaikan dan tujuan Allah menciptakan diri ini ke dunia.

Advertisements