facilitating, mentor, coach

Obrolan semalam dengan salah satu kawan perjalanan memaknai hidup membawaku ke suatu pemahaman baru tentang suatu proses pembelajaran. Beberapa waktu yang lalu aku menulis tentang betapa penuhnya kepala ini dengan infomasi dan ilmu di mind basket. Setelah menulis post itu aku memutuskan untuk berhenti sebentar dari hobiku membaca dan percayalah itu sesuatu yang berat untukku. Aku bisa membaca entry blog berjam-jam, membaca koran sampai tuntas dan membaca buku setebal 400 halaman tanpa putus. Nafsuku menggila saat menemui buku yang menarik. Tapi kemarin aku sempat merasa bahwa semua yang kupelajari tidak tampak bekasnya di kehidupan sehari-hari. Aku merasa bahwa aku sudah tahu banyak tapi entah mengapa knowing something isn’t compare to doing that.

Dalam obrolan dengan kawanku itu, feedback yang paling mengenai bahwa aku membaca hanya untuk mengumpulkan informasi, membaca hanya untuk kepuasan membaca. Tidak pernah membawa apa yang aku dapat dari buku sebagai refensi, membaca hanya untuk mengumpulkan info. It’s like compailing many things that you get freely and might be useful someday but in mean time you don’t realize that your memory more vacant. Pada akhirnya seolah aku merasa terapung diantara gelembung informasi tanpa sadar bahwa aku belum bergerak.

Kawanku itu mengingatkanku bahwa hidup yang sepenuhnya adalah hidup yang berbuat. Tidak sekedar menjalani hidup dari leher sampai kepala (berpikir), tetapi menjalani hidup dalam perbuatan. Apa yang menghambatku karena aku tidak benar-benar menjalani hidupku sendiri, tidak benar-benar menjadi aktor dari film kehidupanku sendiri. Itu yang dikatakan kawanku.

Menjadi aktor artinya adalah menjalani kehidupan sebagai pelaku, bukan sekedar pengamat. Apa yang menghambatku untuk menjadi aktor? Karena dulu aku memilih untuk menjadi pelatih, menjadi pembimbing dari orang-orang lain untuk mencapai impian. Tapi satu hal yang dilupakan adalah manusia cenderung melihat apa yang sudah diperbuat (mungkin itu sebabnya kenapa filsof pilihannya hanya dua, gila atau inspirator. Menjalani hidup dengan sepenuh-penuhnya.

Cita-citaku pada akhirnya adalah menjadi seorang fasilitator kehidupan. Apa yang membedakan guru. trainer dan fasilitator? Guru adalah seseorang yang dicontoh, dan diikuti perkataan dan perbuatannya, sedangkan trainer adalah seseorang yang menguasai suatu keahlian dan mengajarkan orang lain untuk menguasai keahlian itu. Sangat berbeda dengan peran fasilitator. fasilitator adalah seseorang yang membuka dirinya untuk orang lain dan membantu proses berkembangnya orang lain. Sungguh kebahagiaan tertinggi saat  melihat seseorang mencapai potensi tertingginya, melepaskan segala ketakutan dan terbang tinggi dengan impiannya.

Pada akhirnya aku memaknai bahwa perjalanan yang aku lalui adalah perjalanan untuk memaknai arti manusia itu dengan setinggi-tingginya karena itu jalan yang harus dilalui untuk menjadi pelatih hebat. satu-satunya jalan adalah dengan berbuat sekaligus berpikir, menjadi aktor sekaligus pelatih. Jalan panjang menuju kesempurnaan pelatih.

Advertisements