Setelah hampir 23 hari Israel menghancurkan kota-kota di jalur GAZA akhirnya kegilaan itu berhenti juga. Begitulah siaran yg aku lihat di TV Al Jazeera, Minggu 18 Januari 2009. Korban yang dikabarkan adalah kurang lebih 1300 orang, yg separuhnya anak-anak dan wanita, serta hampir 5000 yang terluka. Jumlah yang mengerikan dan betapa manusia bisa begitu kejamnya kepada sesamanya.

Jika itu dinyatakan sebagai perang, maka pertanyaannya adalah perang terhadap siapa? Era informasi menunjukkan kekuatannya saat apa yang terjadi di palestina hampir dalam waktu yang bersamaan dapat dilihat juga di televisi negara-negara ini. kesedihan, keputusasaan dan kemarahan terlihat diwajah para penduduk kota-kota di Gaza. Di satu sisi dapat dilihat juga bagaimana para pemimpin negara dengan berbagai argumentasinya salaing menyalahkan dan membela siapa yang benar.

Di negeri ini sendiri banyak juga aksi yang dilakukan oleh masyarakat terhadap apa yang terjadi di palestina. Ada yang mengumpulkan dana dan melakukan demo mengutuk keras kejahatan itu dengan aksi-aksi yang menurutku lucu tapi sekaligus sangat mengikuti perkembangan jaman – salah satunya adegan melempar sepatu ke wajah presiden Bush -, dan ada yang lebih bermanfaat dengan mengumpulkan dana. Bagiku adalah sesuatu yang tidak masuk akal saat ada yg mengajak untuk menjadi laskar jihad. Sungguh niat yang mulia, tetapi juga agak menggelikan karena bisa dibayangkan bagaimana lebih merepotkan untuk memberangkatkan mereka.

Ada satu aksi yang membuatku mengerutkan dahi dan sedikit meringis sedih -ngenes, bahasa jawanya- saat melihat anak-anak SD dan TK di suatu daerah melakukan demo dengan meniru orang-orang dewasa yang melempari foto presiden Bush dengan sepatu dan menginjak-injaknya. Ironisnya lagi aksi itu dibimbing oleh guru-guru mereka. Yang kubayangkan saat itu bagaimana jadinya anak-anak itu tumbuh saat dewasa kelak. Jika saat masih kecil saja mereka sudah diajarkan untuk melakukan kekerasan dan cara-cara jalanan untuk menyampaikan ketidak setujuan mereka maka apa jadinya saat mereka lebih besar. Itu belum seberapa saat membayangkan bagaimana jika mereka tumbuh menjadi orang-orang pembenci karena jika ada yang tidak disuka maka menjadi terlihat wajar untuk mereka mengungkapkan ketidak sukaannya dengan cara yang anarkis.

Apa jadinya bangsa ini jika anak-anaknya dididik dengan cara seperti itu? itu yang membuatku sedih. Karena bagaimana cara suatu bangsa mendidik generasi mudanya itu pulalah yang akan menentukan nasib bangsanya.¬† Itu pula yang katanya menjadi alasan sesungguhnya dari serangan Israel ke Jalur Gaza, yaitu membunuh anak-anak Palestina untuk memutus rantai calon-calon pejuang kemerdekaan Palestina sebelum ia tumbuh besar dan berbahaya. Hal itu terjadi karena dalam waktu yang tidak begitu lama sebelum serangan Israel, Imam besar Hamas memwisuda 3500 hafidz (penghafal Al Qur’an) yang masih berumur belia. Entah kabar itu benar atau tidak, tetapi dengan melihat sejarah Israel dengan segala kecurangannyam, maka hal itu sangat mungkin benar. Dan jika itu benar maka aku hanya bisa berdoa semoga laknat Allah ditumpahkan kepada bangsa yang gemar menumpahkan darah ini. Semoga kedamaian secepatnya menaungi daerah itu dan pada akhirnya agama tidak dijadikan lagi kambing hitam dari perseteruan yang terjadi. Karena agama tak pernah mengajarkan kekerasan dan agama untuk bisa membawa kedamaian saat agama dibimbing oleh hati nurani.

Advertisements