Aku tanyakan ini kepada semua yang membaca ini? Menurut ahli psikologi, manusia hanya digerakkan oleh dua hal utama yaitu sakit dan / atau senang. Jika bahasa Inggrisnya mah pain and pleasure. Seseorang akan cenderung menjauhi kesakitan dan mengejar kesenangan. Seringkali kita tidak tahu apa yang menggerakkan kita sehari-hari, seolah-olah apa yg kita rasakan berada di luar kontrol kita. Minimal dengan tahu kekuatan utama apa yang sedang menggerakkan kita dengan pilihan tindakan-tindakan kita tersebut maka kita tahu apa yang harus kita lakukan. Ada juga preferensi preferensi terhadap salah satu rasa itu, ada yang jauh lebih tergerak karena menghindari sakit, ada juga yang sangat bersemangat saat dia mengejar apa yang membuatnya senang. Idealnya adalah bagaimana membuat hubungan antara dua perasaan tersebut terhadap apa yang kita cita-citakan untuk diraih.

Cukuplah aku membual teori tentang rasa apa yang menggerakkan semua manusia, sekarang aku akan memakai bahasa manusia untuk menjabarkan teori itu. Setahun yang lalu, tepat hari ini, aku berjanji kepada salah satu orang yang kala itu benar-benar membuat hatiku terluka, menganga, sakit luar biasa terhadap satu rasa. Janji yang aku ucap kala itu adalah aku akan mewujudkan apa yang aku gambarkan dari jalan hidup yang sudah aku tentukan. Waktu itu mungkin aku hanya terdorong oleh perasaan terluka dan tidak terima, tidak ada logika sama sekali untuk menimbang apa yang keluar dari mulut itu. Sekarang, setahun dari saat aku mengucapkan hal itu, aku menyaksikan bahwa hidupku benar-benar terjadi mirip dengan apa yang aku bayangkan saat itu. Tidak mirip persis dari hari ke hari, tetapi dari hasil dan gambaran besar dari apa yang aku kerjakan dan alamimirip sekali dengan apa yang aku bayangkan saat aku mengucap sumpah itu. Sumpah yang sampai sekarang terus membakarku untuk menjadi terus lebih baik dari hari ke hari.

Jadi, setelah menyimak cerita diatas apa yang dominan menggerakkanku sampai aku menjadi seperti hari ini? SAKIT. Benar rasa sakit itu mungkin yang awalnya menggerakkanku untuk berlari lebih cepat dan membuktikan sesuatu. Tapi tak berapa lama kemudian aku menyadari bahwa apa yang aku lakukan adalah sesuatu yang konyol. Tidak ada ‘bunga jiwa’ yang tumbuh indah saat dia disirami oleh kebencian dan kemarahan. Akhirnya aku memilih untuk berterima kasih atas sakit itu, menerima semuanya dan lebih mencintai diri sendiri dan Tuhan yang menciptaku. Aku jadi melihat bahwa orang itu adalah guruku yang telah mengajarkan satu pelajaran hidup yang terpenting yaitu hidup untuk menyalakan impianku. Pelajaran penting lainnya adalah aku mengalami langsung bahwa suatu keputusan yang didorong oleh emosi yang kuat akan menjadi pendorong yang kuat sehingga mampu menggerakkan semesta untuk membantu mewujudkannya. Diakhir perjalanan setahun itu akhirnya aku melihat kesejatian diri, kemurnian cinta dan keberanian untuk memilih. Satu tahun telah berlalu dan di akhir masa setahun itu aku bisa dengan bahagia dan tulus untuk mengucap TERIMA KASIH atas semua yang terjadi. Tuhan telah memilihkan jalan keras dan terjal untukku belajar, dan aku bersyukur telah menjalaninya.

– Memori dari kenangan satu tahun yang lalu –

Advertisements