Beberapa hari ini aku mendapat privilege untuk menghabiskan beberapa buku yang menumpuk tak sempat terjamah. Bagiku membaca itu seperti guilty pleasure karena saat membaca itu seringkali aku sampai lupa waktu dan melakukan hal-hal yang seharusnya menjadi tanggung jawabku. Tetapi dengan komitmen yang aku ambil sekarang maka justru membaca menjadi aktifitas utamaku.

Mulai dari 10 hari yang lalu saat aku berbelanja buku di Palasari, Outliers, First break all the rules, Arok dedes, Jalan raya pos, dan buku pinjaman Back ‘euro’ packers membuat hari-hariku penuh dengan kegiatan satu ini. Bukan hanya menghabiskan buku-buku itu saja, tetapi kuliahku di sejarah pemikiran manajemen dan sains sosial membuat aktifitas membaca menjadi semakin dominan dalam agendaku 10 hari terakhir.

Bukan isi dari buku-buku itu yang ingin aku ceritakan disini, tetapi tentang aktifitas membaca itu sendiri. Sepanjang yang aku ingat, sejak kelas dua SD aku sudah sangat gemar membaca. Bahkan sejak kelas 2 itu aku sudah mulai membacai buku-buku diperpus sekolah, mulai dari Ramayana sampai Petualangan Winettoou yang sangat menginspirasi. Maka dapat dipastikan setiap istirahat dan sepulang sekolah aku ada di perpus itu dan kadang disambung dengan ke perpustakaan masjid raya di desaku untuk meneruskan membaca sampai sore. Tak jarang aku harus dijemput pulang oleh nenek karena khawatir cucunya belum terlihat dirumah sejak sore.

Hadiah terindah yang sampai sekarang aku ingat dari kedua orang tuaku adalah kumpulan ensklopedia widyapustaka pertama bagi anak2 dan khasanah pengetahuan pertama. semua ensklopedia itu membawaku menyeberangi semua ranah pengetahuan yang dan membuatku selalu terkagum-kagum tentang semua gambar dan fenomena alam yang tertulis di situ. Dan sejak itu buku selalu menjadi rekreasiku yang paling utama.

Seiring dengan semakin

Advertisements