Teman-temanku pada awalnya banyak yang tak percaya bahwa aku memutuskan untuk sekolah lagi, yang lainnya malah memintaku untuk mempertimbangkan lagi keputusanku ini. Tapi saat keputusan ini diambil justru aku merasakan keriaan yang tidak biasanya. Apakah ini tandanya aku sudah berada dijalan takdir? Entahlah. Tapi jujur setelah 4 tahun lulus dari S-1 dengan nilai pas-pasan maka keinginan untuk sekolah S-2 bukanlah pilihan yang mudah diterima akal. But now here I am, ready to continue my journey.

Ada 3 alasan dan 1 kejadian kenapa aku memutuskan untuk sekolah lagi. Alasan pertama adalah aku sudah terlalu sering ditanya oleh orang-orang disekitar pekerjaanku apa hubungannya antara Teknik Lingkungan dengan bidang Sumber Daya Manusia (btw buat yg belum tahu, aku lulusan S-1 T. Lingkungan ITB). Alasan kedua menyangkut tentang incestasi. Investasi terbesar adalah selalu tentang berinvestasi pada pengetahuan. Dan daripada tabunganku tidak berbekas maka lebih baik aku memilih menginvestasikan pada diriku sendiri. Alasan terakhir adalah karena aku memang punya impian untuk sekolah sampai S-2. Bedanya memang impian ini aku wujudkan lebih cepat dari yang aku rencanakan.

Daripada memperpanjang cerita pribadi yang akan mengaburkan pesan, maka lebih baik aku berbagi tentang pelajaran apa saja yang aku dapat dari prosesku kembali ke sekolah ini. Sebelum aku memutuskan sekolah lagi, banyak sekali pertanyaan yang aku ajukan pada diriku sendiri mulai dari benarkah ini jurusan yang memang ingin aku ambil, bagaimana caranya agar aku bisa membiayainya sendiri, atau yang paling ga penting apakah ini akan menghabiskan waktu-waktu tidurku. Tapi hal pertama yang aku pelajari bahwa terlalu banyak berpikir itu seringkali menghambatku untuk bergerak. Dan karena berpikir biasanya hanya memuaskan ketakutanku maka aku stop pikiranku untuk bekerja dan aku mantapkan hati untuk memilih ini. It feels so good..!! Tiba-tiba aku menyadari satu langkah lagi untuk membuat hidupku lebih mudah, yaitu pikiran hanya berfungsi untuk menghitung segala kemungkinan tapi tetap hanya hati yang akan menentukan apakah suatu keputusan itu jadi diambil atau tidak. Hati adalah panglima sejati dari tubuh dan pikiran, dengarkanlah dia maka kau tidak akan pernah menyesali hidupmu.

Lalu tentang jurusan yang aku ambil, MSM atau magister sains manajemen adalah jurusan yang relatif muda dan adanya di SBM ITB. Berbeda dengan MBA atau MM yang lebih sering terdengar istilahnya, MSM relatif tidak dikenal karena magister ini masih sering dirancukan dengan MBA atau MM. Perbedaan utama antara MSM dan MBA adalah pendekatannya terhadap pengajaran manajemennya itu sendiri, jika MBA cenderung ke case approach dan lebih aplikatif dalam dunia bisnis, maka MSM lebih ke arah risetnya dan sains dari manajemennya sendiri.  Jurusan baru di sekolah yang baru juga biasanya akreditasinya kurang meyakinkan, dan aku sempat iri dengan teman2 yang berkesempatan untuk kuliah di luar negeri karena pasti pengalaman hidup dan wawasan yg didapatnya akan jauh lebih luas.  Tetapi kemudian aku menyadari bahwa kuliah di tingkat lanjut macam di S-2 itu sebenarnya adalah suatu anugerah tersendiri karena banyak orang yg bahkan untuk sekolah sampai SMA saja tidak berani bermimpi. Menurutku dijenjang S-2 sudah bukan masanya untuk mengandalkan reputasi sekolah hanya sebagai nilai jualku saat lulus kelak. Yang lebih penting adalah pemahaman keilmuan dari studi yang kita pilih dan bagaimana mengaplikasikannya ke dunia. Pelajaran yang aku ambil adalah darimanapun lo berasal, klo emang lo adalah intan maka lo akan dicari orang, tidak peduli bagaimana latar belakangmu. Semua itu butuh kerja keras dan paling utama adalah konsistensi untuk meningkatkan kualitas diri (klo kata buku outliers itu adalah aturan 10.000 jam).

Satu hal yang menurutku sangat memperkaya pengalaman kuliahku di S-2 adalah bekerjalah dahulu sebelum mengambil S-2. Setidaknya jika tidak bekerja minimal lakukan apa yang kau suka dan bereksperimenlah pada dunia sebelum masuk ke bangku sekolah lagi. Salah satu dosenku pernah bilang bahwa orang sekolah itu pada dasarnya adalah orang yg menyerahkan kebebasannya untuk berpikir kepada teori-teori dan hasil dari pemikiran orang lain. Seringkali murid lupa untuk menanyakan is it true? or why this come like this. Atau yang paling parah adalah kuliah just only for the sake of kuliah itu sendiri (status, kewajiban, etc). Yang aku amati dari teman-teman sekelasku dan yang aku rasakan sendiri adalah teman2ku yang sudah bekerja rata-rata rasionalisasi dan kualitas pertanyaannya jauh lebih dalam dengan pemahaman yg diperkaya oleh real life experience. Jadinya saat kuliah seringkali momen AHA muncul dikepalaku dan semakin bersyukurlah aku terhadap keputusan yang aku ambil. Pernah aku bercerita pada mentorku tentang kuliahku di S-2 ini dan dia hanya bilang bahwa kuliah S-2 di Indonesia memang dirancang untuk alasan praktikal dari apa yang ditemu dalam kehidupan sehari-hari, bedanya dengan S-1 adalah jika S-1 fokusnya adalah gaining knowledge, jadi urusan aplikasi memang prioritas kedua. Jadinya wajar sekali jika banyak lulusan S-1 yang merasa ilmunya yang kepake di dunia kerja cuma sedikit sekali. Bukan hanya karena mungkin ilmunya kurang membumi, tetapi mungkin karena konsep mengumpulkan pengetahuan itu yang ditonjolkan. Akhirnya saranku ke teman-teman yang bertanya tentang sekolah lagi padaku selalu aku imbuhkan untuk menyuruhnya bekerja dulu setelah lulus sebelum mengambil sekolah lagi. Ditambah lagi, jika kita sempat berpisah dengan dunia kampus sebelum memasukinya lagi maka kita akan memiliki motivasi lebih untuk menyelesaikan sekolah yang baru ini lebih baik dibandingkan sekolah sebelumnya. Karena seperti aku, kebanyakan orang lebih banyak belajar dari pengalaman gagalnya di masa lalu. Jadi boleh dikatakan kuliahku sekarang adalah gabungan antara hasrat, jodoh dan balas dendam dari S-1 yang amburadul.

Satu hal yang pasti yang aku pelajari tentang keputusanku sekolah lagi ini, yaitu tentang konsep jodoh. Aku selalu percaya kalo jodoh maka semuanya akan serba dimudahkan, dan alhamdulillah itu yang aku alami. Pertama tentang biaya kuliah, alhamdulillah aku dapat beasiswa yang meringankan. Trus karena ada student exchange di kelasku maka akhirnya semua kuliah delivered full in english and guess what, we have same class with Ph.D student too, it make our session full with viable discussion. Teman-teman yg range usia dan pengalaman kerjanya sangat beragam juga membuat kelasku semakin ramai diskusinya.  Terakhir tentang dosen dan metode pengajarannya, dengan kebijakan pintu terbuka dari dosen dan kebebasan untuk berdiskusi bahkan tentang apapun yg berkaitan dengan manajemen membuat banyak pertanyaanku tentang manajemen terjawab. Kesimpulannya semua yang aku bayangkan tentang suasana belajar di S-2 terwujud dikelasku yang sekarang. Walau agak keteteran karena tugas dan course material in english tapi aku sangat menikmati setiap detikku berada dikelas S-2 ini.

Banyak pelajaran hidup yang aku dapat dari mulai tentang keberanian, kejujuran, antusiasme, disiplin, dan keikhlasan semua aku pelajari dalam waktu 4 bulan ini. Aku yakin masih banyak pelajaran hidup yang aku hadapi. Mungkin tulisan berikutnya aku akan coba bedah beda antara MSM dan MBA terutama yang ada di ITB. Semoga apa yang kutulis bermanfaat dan menjawab pertanyaan kenapa Andik sekolah lagi.

Advertisements