Aku selalu percaya pendidikan adalah penggerak utama peradaban. Semakin terdidik penduduk suatu negara maka biasanya hasil budaya negara itu juga semakin tinggi. Dan judul diatas adalah judul salah satu film dari negara yang warga negaranya salah satu pelanggan hadiah Nobel dan kaum profesionalnya, terutama di bidang IT dan kedokteran sudah diakui oleh banyak negara maju. Ya negara itu adalah India. Industri film negara itu memang salah satu yang terbesar di dunia, tapi karena aku bukan salah satu fans film-film mereka maka hanya beberapa saja yang aku tonton. Dan sugguh mengejutkan bahwa banyak film-film mereka sangat layak ditonton. Seolah-olah India benar-benar lompat dari negara yang sedang berkembang menjadi negara maju. Sungguh mengenaskan jika di Indonesia, salah satu anak bangsa menjadi raja  sinetron dan merusak bangsa ini dengan tontonan tidak mendidik penuh mimpi dan air mata buatan atau tokoh antagonis yang sangat keterlaluan jahatnya.

Sudah hampir satu bulan aku tidak berhasil menulis resensi film ini, aku selalu berhenti di tengah kebuntuan untuk menuliskan apa yang ingin aku sampaikan. Dan seminggu yang lalu setelah menonton film ini di bioskop akhirnya aku tahu apa yang akan aku tulis. Yaitu tentang keberanian dan mengikuti kata hati. Awalnya aku ingin menuliskan resensi dari film 3 jam ini, tetapi sepertinya aku sudah ada yang melakukannya lebih baik disini (hati-hati bagi spoiler hater, artikelnya banyak spoilernya), jadi lebih baik aku langsung menulis apa yang menginspirasiku dari film ini.

Menurutku apa yang aku alami  selama hampir satu semester ini adalah fenomena Raju. Raju di film ini diceritakan sebagi tokoh yang paling penakut diantara tiga orang itu. Dia adalah anak cerdas yang kemudian karena keadaan keluarga dan harapan orang-orang sekitarnya membuatnya takut pada apa yang akan terjadi. Dan itu adalah hal yang paling tepat menggambarkan keadaan diriku dan mungkin banyak dari kita. Ketakutan akan apa yang akan terjadi melumpuhkan kita untuk melakukan sesuatu yang perlu kita lakukan sekarang.

Tentang keberanian, banyak hal yang bisa dipelajari dari Raju, dan mungkin dia adalah tokoh dimana aku paling banyak belajar dan mendapatkan inspirasi. Berbeda dengan Rancho yang seperti angin yang bebas bergerak dan matahari yang menghangatkan, Raju seperti orang yang terbelenggu oleh dirinya sendiri untuk mengeluarkan apa yang terbaik dari apa yang dia punya. Banyak dari kita yang seperti itu, mengikuti ketakutan dan akhirnya ketakutan itu mewujud dan membuat kita semakin percaya bahwa kita memang tidak ditakdirkan untuk menjadi pemenang. Dan itu bukan karena kita terlahir untuk pengecut, tetapi lebih karena hati kita yang seringkali takut, karena itu Aal izz well menjadi mantra ampuh untuk mengelabui hati dari ketakutannya.

Itu persis yang aku alami sepanjang semester ini, ketakutan dan harapanku terhadap hasil akhir telah membutakanku terhadap proses apa yang harus aku jalani. Einstein pernah berkata hanya orang gila yang melakukan hal yang sama tetapi berharap hasilnya berbeda. Dan ternyata aku hampir saja menjadi orang gila itu. Tekanan di awal semester dan keenggananku terhadap salah satu mata kuliah membuatku tidak berusaha maksimal sampai UTS kemarin, aku terus menunda dan berharap akhirnya semuanya lewat tanpa aku harus mengerjakan apa yang tidak aku suka. Tetapi dunia tidak bekerja seperti itu kawan, kita punya kemerdekaan memilih untuk melakuakan apapun, tetapi kita tidak pernah bebas menentukan konsekuensi dari pilihan tersebut. Dan yang kudapat hanyalah stress yang semakin menggila. Akhirnya aku harus mengakui kebenaran lama bahwa pada akhirnya dunia hanya mengakui apa yang kita kerjakan bukan apa yang kita bilang kita bisa kerjakan. Aku mulai mengejar ketertinggalanku dan menanggalkan ketakutan dibelakang. Fokusku aku alihkan dari apa yang seharusnya aku lakukan menjadi apa yang bisa aku lakukan.

Tentang mengikuti kata hati,  Nugie mengatakan ini sebagai lentera jiwa, ada yang bilang ini adalah passion, semuanya berkata tentang hal yang sama bahwa kita harus mengejar apapun yang kita suka untuk dikerjakan. Dan film ini menceritakan hal ini dengan begitu indahnya, tanpa berusaha menggurui, tetapi apa yang ingin film ini sampaikan tentang sistem pendidikan, keberanian, cinta dan menikmati hidup menurutku adalah hal-hal yang perlu kita jaga karena betapa mudahnya hal itu ditutupi oleh kerasnya dunia. Akhirnya aku bisa memahami apa yang dikatakan Andrie Wongso tentang keras pada diri sendiri. Keras pada diri sendiri bukan berarti bahwa kita harus memaksa diri melakukan terus apa yang harus dilakukan, Tetapi lebih pada disiplin untuk terus fokus memilih tindakan perlu dilakukan agar apa yang kita inginkan terjadi. Karena saat kita mengikuti passion atau kata hati maka setiap apapun yang kita lakukan tidak akan terasa berat, bahkan kebalikannya, seolah kita terdorong dengan sendirinya dari pilihan itu. Satu hal yang perlu dilakukan hanyalah sekedar keras untuk mengikuti kata hati.

Beruntung India punya orang-orang seperti Rajkumar yang bisa mengajarkan hal ini pada bangsanya dengan cara yang menyenangkan. Dan semoga apapun yang akan kita kerjakan bisa menginspirasi sekitar kita. Selamat berkarya kawan-kawan. Jika hari ini kita tidak berani untuk mengikuti kata hati  maka mari kita bersama-sama mengikuti mantra sakti Rancho AAL IZZ WELL….

Advertisements