Setelah membaca buku First Break All The Rules banyak hal yg selama ini masih belum jelas menjadi jadi bisa dimengerti. Sebelumnya aku mengenal konsep tentang bakat dari Abah Rama dengan talentsmappingnya. Kemudian dengan berjalannya waktu, ketertarikanku terhadap ilmu ini semakin tinggi. Seperti halnya Positif psikologi yg dipopulerkan Martin J. Selignman, atau Appreciative Inquiry, maka bakat atau yang nanti kemudian berkembang menjadi Strength Based approach diperkenalkan Gallup setelah mereka melihat betapa tidak berimbangnya perhatian orang-orang psikologi pada apa yang namanya kelebihan seorang manusia. Psikologi yang berkembang setelah perang dunia kedua adalah tentang bagaimana mempelajari penyakit kejiwaan dan akhirnya buku-buku yang membahas tentang kekurangan dan penyakit jiwa jauh lebih banyak daripada buku yang membahas tentang kelebihan dan kesuksesan manusia. Kalaupun banyak maka buku tentang kesuksesan itu adalah cerita tentang seseorang atau tips-tips dari orang sukses tertentu.

Buku First, Break All the Rules ini adalah buku pertama dari Marcus Buckingham yang berasal dari dua penelitian besar yang dilakukan Gallup terhadap lebih dari satu juta pekerja dan delapan puluh ribu manajer yang memunculkan insight luar biasa tentang bagaimana para manager hebat bertindak berbeda dibandingkan manajer rata-rata. Banyak sekali paradigma tentang manajemen yang dibahas dengan sudut pandang berbeda dan terasa lebih menyegarkan.

Penelitian pertama Gallup ditujukan pada satu juta karyawan dengan fokus pertanyaan apa yang diinginkan oleh karyawan paling berbakat dari tempat kerja mereka. Penelitian itu menghasilkan banyak penemuan (hal lainnya adalah tentang strength/bakat) tapi penemuan terpenting adalah karyawan berbakat membutuhkan manajer hebat dan penelitian itu membawa ke penelitian kedua yang kemudian melahirkan buku ini, yaitu bagaimana manajer terhebat mempertahankan karyawan mereka yang berbakat.

Seperti membaca dan merangkum Outliers, buku ini juga penuh dengan data tapi juga punya nilai sastra yang tinggi, jadi aku agak kesulitan untuk mensarikannya sesuai dengan urutannya bercerita buku ini. Buku-buku seperti ini memang lebih enak untuk dinikmati sendiri. Tapi di tulisan ini aku coba untuk mensarikan insight apa saja yang aku dapatkan dari membaca buku ini.

Ada satu pandangan yang selalu dipercaya oleh para manajer hebat, yaitu :

Manusia tidak berubah sebanyak itu. Jangan membuang waktu berusaha menggunakan apa yang tidak ada. Berusahalah menggunakan apa yang ada, itupun sudah cukup sulit.

Pandangan itu yang mendasari para manajer hebat dalam mengelola para karyawannya. Pandangan ini cukup revolusioner karena itu menjelaskan mengapa manajer hebat tidak percaya bahwa setiap orang mrmiliki potensi yang tak terbatas, mengapa mereka tidak membantu memperbaiki kekurangan karyawan mereka, dan mengapa mereka membeda-bedakan karyawan mereka. Intinya mereka melanggar semua aturan konvensional tentang mengatur karyawan dan itu pula sumber dari keberhasilan mereka mengatur karyawannya.

Hal itu bukan berarti bahwa mereka mengabaikan kelemahan karyawannya, atau menganggap semua pelatihan akan sia-sia. Karena itu kita harus memahami peran dari seorang manajer dalam sebuah organisasi. Peran manajer dalam sebuah organisasi adalah sebagai katalis dari berjalannya organisasi itu. Dalam struktur organisasi bisnis yang semakin ramping dan pemahaman yang salah tentang fungsi manajer, membuat manajer seolah-olah tidak dibutuhkan lagi. Sesungguhnya justru dengan semakin cepatnya perubahan dalam dunia bisnis, maka peran manajer menjadi semakin penting. Seperti dalam ilmu kimia, katalis adalah zat yang berperan untuk mempercepat proses terjadinya reaksi antara dua unsur. Begitu juga peran manajer, peran manajer sebagai katalis adalah dengan menjangkau kedalam setiap karyawan dan melepaskan setiap bakat unik mereka menjadi prestasi. Hal itu dilakukan dengan melakukan empat aktifitas, yaitu :

  1. Memilih orang yang tepat,
  2. Tentukan harapan atau tujuannya
  3. Motivasi mereka untuk mencapai tujuannya
  4. kembangkan orang tersebut.

Dengan melakukan 4 fungsi ini, manajer menjalankan perannya sebagai katalis. Jadi ada manajer bukanlah pemimpin yang sedang menunggu giliran, fokus mereka berbeda dan itu yang perlu dipahami sejak awal. Saat manajer menyadari perannya maka tidak akan ada lagi salah peran seperti yang biasa terjadi saat teknisi atau salesman hebat dipromosikan jabatannya atas nama pemberian reward atas kinerjanya. Hal itu biasa terjadi karena perusahaan tidak memahami perbedaan skill dan knowledge serta karakter yang harus dipunyai seorang manajer hebat dengan pekerja teknis yang hebat.

Jadi mulai saat ini saat kita bicara tentang keahlian, pengetahuan dan bakat maka ketiga hal ini adalah tiga hal yang berbeda dan seseorang akan mencapai kinerja maksimumnya saat dia bisa memaksimalkan bakat yang dia punya dengan fungsi pekerjaan yang sesuai dan kemudian ditambah dengan pengetahuan dan keahlian yang sesuai untuk menunjang fungsi tersebut. Hal itu sama dengan konsep landak yang digagas Jim Collins dibukunya Good to Great. Jadi selamat mengasah keahlian dan pengetahuan teman-teman, tapi satu hal yang perlu dipastikan dulu adalah selamat mencari bakat yang perlu kita maksimalkan.

Advertisements