Sudah hampir empat bulan aku berada di kota ini, dan seperti biasa kecepatan kota ini menelanku untuk mengisi lagi kotak memori ini. Tapi bukan itu saja yang membuatku lupa untuk terus mengisi blog ini. alasan besar lainnya adalah t***s. jafi maafkan pembaca setiaku atas kealpaan ini..:)

Kembali ke topik sesuai judulnya, tentang menikmati Jakarta. Kota ini benar2 luar biasa dengan caranya sendiri, disini terhampar berjuta peluang tapi di aatu sisi kemiskinan juga demikian telanjang dipertontonkan. Ketidakpedulian dan individualisme begitu kuat tapi disela-selamya masih banyak keyulusan dan kepedulian. semua hal yg kontradiktif ini yg membawaku menuju satu kesadaran lain tentang hati.

hati yang merupakan asal muara cinta dan suara kebenaran akan mati saat dia tidak terus diasah dan didengarkan suaranya. Namun saat dia dikuatkan dan terus dilatih maka dia akan menjadi kompas yang memandu kita dalam menjalani kebenaran, memanusiakan perilaku kita dan yang terpenting menikmati apapun yang sedang dijalani.

Demikian juga kenikmatan yang aku rasakan dalam menjalani hati-hariku di jakarta, semua aku rasakan karena ada hati dalam apa yang aku kerjakan. Syukur alhamdulillah aku masih merasakan itu, karena tanpa hal itu rasanya lambat laun aku akan menjadi robot hidup tanpa rasa yg menunggu ajalnya. Semoga ini tidak akan terjadi pada kita semua.

Advertisements