” Innalillahi wa innaillaihi rojiun”

Kata dalam judul post ini adalah kata pertama yang muncul dikepalaku saat aku menyadari bahwa ada yang mengambil kedua hape dan dompetku. Kata tersebut merangkum semua pembelajaran yang aku dapatkan dari kejadian ini. Kehilangan harta yang begitu penting buatku saat itu untuk kedua kalinya.

Pada saat aku kehilangan tas beserta isinya dan hapeku setahun yang lalu, aku belajar tentang keikhlasan untuk merelakan apa yang disayangi diambil dan belajar untuk tidak membuang waktu dari amanah yang harus ditunaikan. Kehilangan kali ini aku belajar betul bahwa harta itu hanyalah titipan, kapan saja yang menganugerahkan harta tersebut ingin mengambilnya, dengan mudah Ia akan mengijinkan hal itu terjadi. Kejadian ini ibarat jawaban dari segala kecemasanku akhir-akhir ini tentang rejeki, yang bahkan sampai pada tahap aku pikirkan di sela2 dalam sholat.

Kejadian kehilangan ini ibarat Tuhan sedang bertanya padaku tentang keyakinanku sendiri bahwa rejeki, jodoh dan mati itu sudah ada yang mengatur. Chapter jodoh insyaallah sudah aku pelajari, kali ini Allah sepertinya sedang belajar tentang chapter rejeki, karena itu sebelum aku diajarkan tentang chapter mati, maka aku ingin menulis ini sebagai pengingatku sendiri tentang apa yang aku pelajari dari masing2 chapter ini.

Pemahaman tentang pembelajaran ini juga aku dapatkan dari orang-orang luar biasa yang aku temui di Padang dan Pasaman Barat yang memanfaatkan semua anugerahnya untuk bisa berkontribusi sebanyak-banyaknya untuk orang lain. Di post lain akan aku ceritakan tentang perjalananku ke Sumatera Barat tersebut. Satu hal yang aku pelajari dari mereka adalah bagaimana untuk tidak menyerah dan menjadikan harta sebagai alasan untuk bisa memberi pada orang lain. Hal salah yang selama ini selalu mengkhawatirkanku. Pelajaran lainnya adalah rejeki itu aneh, semakin banyak diberikan justru akan semakin bertambah. Aku begitu terpesona dengan apa yang dilakukan Pak Jhoni dan segala pencapaiannya karena menganut prinsip tersebut. Beliau benar-benar sosok yang luar biasa dan menginspirasi dengan aktifitasnya di pembangunan PLTMH. Beliau benar-benar membukakan mataku bahwa harta itu hanya sekedar alat untuk mencapai tujuan, tidak penting alatnya tersedia atau tidak, selama tujuan dan caranya benar, maka alat itu suatu saat pasti tersedia, yang perlu dilakukan adalah memastikan bahwa kita sudah memberikan yang terbaik dari apa yang kita bisa.

Apa yang aku pelajari dari kejadian ini adalah :

  • Harta hanyalah titipan, jika diambil kembali, maka ikhlaskan dan cari lagi.
  • Rejeki akan semakin bertambah disaat kita semakin banyak memberi.
  • Uang sekedar alat, yang lebih penting adalah tujuan dari penggunaan alat itu.
  • Dan yang terpenting lagi adalah berikan yang terbaik, maka keniscayaan rejeki menghampiri akan pasti terjadi.

Semoga tulisan ini akan terus mengingatkanku tentang pemahamanku tentang chapter rejeki ini.

Advertisements